Kamis, 07 Mei 2020

Ramadhan Dan Kecerdasan Umat I Ustadz Masturi Istamar Suhadi


Seorang Muslim  memiliki kecerdasan  yang utuh,  yaitu :
1. Kecerdasan Spiritual ( Adzaka' Ar Ruhiy )
2. Kecerdasan Intelektual ( Adzaka' Al Fikriy)
3. Kecerdasan Emosional ( Adzaka' Al ‘Athifiy)
4. Kecerdasan Sosial ( Adzaka' A Ijtima’iy )

Jumat, 27 Maret 2020

Pilar Kelangsungan Sebuah Negara

( Refleksi Kemerdekaan RI Ke 72 – 17 Agustus 2017 )

Dalam membersamai kedatangan hari kemerdekaan negara kita yang ke 72 ini,  di tengah berbagai aktivitas keramaian  memperingati  kemerdekaan ini alangkah baiknya kita gunakan untuk merenungkan kembali kondisi kita. Cara terbaik merefleksikan kondisi kita dengan mengambil pelajaran dari kitab Suci Al Quran yang menjadi sumber dan inspirasi kehidupan umat Islam.
Refleksi ini kita ambil dari renungan kita terhadap Firman Allah swt dalam surat Ibrahim ayat 34 – 37. Allah swt berfirman:
وَآتَاكُم مِّن كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوهُ ۚ وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا ۗ إِنَّ الْإِنسَانَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ (34) وَإِذْ قَالَ إِبْرَاهِيمُ رَبِّ اجْعَلْ هَٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الْأَصْنَامَ (35) رَبِّ إِنَّهُنَّ أَضْلَلْنَ كَثِيرًا مِّنَ النَّاسِ ۖ فَمَن تَبِعَنِي فَإِنَّهُ مِنِّي ۖ وَمَنْ عَصَانِي فَإِنَّكَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ (36) رَّبَّنَا إِنِّي أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِّنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُم مِّنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ (37
34. Dan Dia telah memberikan kepadamu segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah).
35. Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala.
36. Ya Tuhanku, berhala-berhala itu telah menyesatkan banyak dari manusia[3]. Barang siapa mengikutiku[4], maka orang itu termasuk golonganku, dan barang siapa mendurhakaiku, maka Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
37. Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.
38. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami tampakkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. (  Surat Ibrahim 33-37)

Dalam ayat-ayat di atas mengisahkan tentang Nabi Ibrahim a.s. dan keluarganya yang Allah swt utus sebagai seorang Nabi dan Rasul. Keteladanan yang mengajarkan kepada kita tentang kehidupan secara luas.
Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah swt untuk membawa Sayyidah Hajar a.s. sang Istri dan bayi Ismail .a.s.  ke tengah padang pasir yang tandus, tidak ada air, tidak ada manusia, tidak ada tumbuhan, tidak ada makanan, yang kelak menjadi sebuah kota  yang disebut  Mekkah hingga saat ini.

Pilar Kelangsungan Sebuah Negara
Yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim dan keluarganya ternyata adalah proses membentuk sebuah negara. Dan bagaimana pondasi yang harus diletakkan  untuk kelangsungan sebuah negara. Negara yang benar pondasinya, benar aktivitasnya, kuat jalinan sosialnya, sejahtera kondisinya dan panjang sejarahnya. Dari ayat-ayat di atas kita bisa mendapatkan pondasi sebuah negara adalah:
Pertama : Ideologi
Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku agar tidak menyembah berhala. [ Q,s, Ibrahim : 35].
Sebelum meletakkan anak dan istrinya di tengah padang pasir, Nabi Ibrahim a.s. meletakkan sebuah dasar Tauhid yaitu Mengesakan Allah swt dan menjauhkan sejauh-jauhnya kesyirikan menyekutukan Allah swt. Tauhid adalah pondasi ideologis dan kesyirikan adalah perusak dari ideology  tersebut.
Kedua : Aktivitas Yang Menjaga Kelangsungan Ideologi
Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, Ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat … ( Q.s. Ibrahim 37 )
Ideologi  adalah pondasi yang akan hancur dan tergerus bila tidak dijaga setiap saat. Tauhid adalah ideology, syirik adalah perusak yang menggerogoti dari pondasi tersebut. Maka Sholat adalah  aktivitas yang menjaga ideology tersebut. Oleh karena itu, maka Nabi Ibrahim mengusahakan agar keluarganya anak-cucu dan keturunannya agar menegakkan sholat.  Bila sholat tidak ditegakkan, maka tauhid akan lenyap, ideology akan tergerus. Kehancuran akan menjadi sebuah keniscayaan.
Ketiga : Kesholehan Sosial
….maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka ….( Q.s. Ibrahim 37 )
Berikutnya yang dilakukan oleh Nabi Ibrahim adalah menjadikan keluarga dan keturunannya  menjadi orang-orang yang berakhlak mulia. Sehingga menjadi pribadi yang menarik. Siapa yang memandangnya menjadi tertarik, sayang, hormat, setia dan akan  senang bersama mereka, dilingkungan mereka, beraktivitas bersama mereka. Karena mereka adalah pribadi-pribadi yang memang menarik. Bila kesolehan social ini terbentuk, maka orang-orang yang tidak soleh, aktivitas yang tidak sholeh, dan kondisi yang tidak sholeh akan menjauh sejauh-jauhnya, dan akan tersingkir dengan sendirinya.
Keempat : Jaminan Kesejahteraan Materi
….dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan …. ( Q.s. Ibrahim 37 )
Yang harus diperhatikan untuk kelangsungan sebuah negara adalah kesejahteraan materi yang dinikmati  bersama oleh semua penduduknya.
Semua warga negara agar berusaha seoptimal mungkin untuk mewujudkan kesejahteraan materi ini. Sehingga kesejahteraan materi ini bisa mereka raih. Kemudian kesejahteraan materi ini  harus dinikmati bersama oleh semua penduduk negeri dengan adil. Tidak boleh kesejahteraan negeri itu dinikmati oleh sebagian orang, dan tidak bisa dinikmati oleh sebagian yang lain.   Kebersamaan mereka dalam menikmati kesejahteraan adalah jaminan untuk  stabilitas  social negara tersebut.
Mungkinkah  hal ini terwujudkan? Sangat mungkin sekali, karena kesejahteraan ini diwujudkan di atas pondasi ideologis yang kuat, yaitu tauhid yang  dijaga dengan aktivitas sholat, dikawal dengan kesholehan social. Maka kesejahteraan akan bisa dinikmati bersama secara adil oleh seluruh warga negara.
Kelima : Senantiasa bersyukur
….mudah-mudahan mereka bersyukur. ( Q.s. Ibrahim 37 )
Pilar berikutnya adalah bersyukur atas karunia Allah swt, syukur atas  :
-    pondasi ideologis yang kuat, yaitu tauhid
-    aktivitas yang menjaga keutuhan ideologis, yaitu sholat
-    perilaku yang baik yang menjaga kesolidan social, yaitu akhlak
-    kenikmatan dan kesejahteraan materi yang mereka dapatkan
Kesyukuran  atas pondasi ideologis akan menjadikan seluruh warga negara mengingat selalu apa yang mengabadikan eksistensi mereka. Wujudnya sebuah negara adalah ideologinya,bila ideology itu hancur, maka hancurlah negara itu.
Kesyukuran atas aktivitas yang menjaga keutuhan ideologis, yaitu sholat dengan senantiasa  mendirikan dan menegakkannya selalu. Karena dengan  menegakkannya maka ideology akan  terjaga, bila tidak ditegakkan, maka akan hancurlah  ideology itu.  Yang berarti musnahnya entitas negara tersebut.
Kesyukuran kesolidan social, yaitu  semua  warga negara mengusahakan dirinya untuk menjadi pribadi yang menarik. Yaitu pribadi yang bermoral. Menjauhkan dirinya  dari berbuat dholim. Kedzoliman berusaha dijauhkan dari pribadi, keluarga dan masyarakat.
Kesyukuran atas kenikmatan dan kesejahteraan materi yang mereka dapatkan  dengan berbagi dengan orang yang tidak mendapatkan. Karena kondisi  warga negara berbeda-beda. Yang membedakan mereka itu adalah taqdir. Masing-masing orang harus ikhlas, menerima, rela menjalaninya dengan senang hati. Sehingga perbedaan kondisi ini pasti terjadi. Orang yang mendapatkan kesejahteraan lebih, mensyukurinya dengan berbagi kepada orang yang Allah swt takdirkan tidak bisa mendapatkannya.
Maka dengan mensyukuri semua  hal di atas, akan menjaga kelangsungan sebuah negara.  Maka akan tercipta kondisi seperti  yang dikisahkan Al Quran Negeri Saba yang makmur sebelum dihancurkan karena kekafiran mereka:
بلدة طيبة ورب غفور
“ Sebuah negara yang baik dan Tuhan Yang Maha Pengampun”
Semoga  kita semua bisa mengambil pelajaran dari kisah di atas. Amin

Kesimpulan
Pilar kelangsungan sebuah negara, yaitu:  Ideologi, Aktivitas  yang menjaga ideology, kesholehan social, kecukupan materi, kesyukuran
Kelima hal di atas harus wujud. Itulah yang akan menjadi pilar kelangsungan sebuah negara baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur.

Kita sebagai bangsa Indonesia dan umat Islam  yang NKRI  menjadi semangat kita dalam bernegara, maka kelima hal di atas harus kita terapkan dalam diri, keluarga dan masyarakat muslim kita. Karena itu yang akan menjamin kelangsungan negara ini. Bila tidak  semua akan berlalu  dan hilang seperti negara-negara dan peradaban yang pernah wujud. Dulu ada Imperium Romawi, Persi, Mesir, India, Cina, Saba, Majapahit, Sriwijaya, Kutai dan seterusnya. Semua sudah hilang, berlalu tanpa ada yang tertinggal dan tidak akan pernah kembali lagi.
Hal yang sama juga akan terjadi  pada NKRI kita bila kita tidak menyadari hal ini.  Usia 72 tahun untuk sebuah peradabaan itu sangat pendek.  Bila kita tidak menjaganya seperti yang saya sebutkan pilar-pilarnya di atas, maka ia akan menjadi sejarah seperti yang lain.
Semoga Allah swt memberikan kesadaran kepada kita, masyarakat kita dan semua umat Islam. Sehingga tercipta baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur. amin

Sya’ban, Persiapan Menuju Ramadhan

Tanpa terasa Ramadzan sudah hampir menjelang.  Padahal rasanya  belum lama kita meninggalkan Ramadzan.  Kala kita renungkan keberadaan bulan Rajab, Sya’ban, Ramadhan, ketiga bulan tersebut saling berurutan. Pasti ada hikmah di sana. Setidaknya, deretan bulan itu mengisyaratkan pentingnya penekanan ibadah menjelang bulan penuh ampunan, Ramadhan. 
Untuk mengoptimalkan ibadah di bulan Ramadzan, maka diperlukan langkah-langkah persiapan. Sebuah kesuksesan kerap kali tak bisa lepas dari persiapan yang matang.  Seorang murid yang berhasil lulus ujian maka ia jauh-jauh hari telah bersiap diri menghadapi tes kelulusan itu. Sayangnya, keutamaan persiapan diri itu,  tak banyak diketahui oleh kebanyakan orang. Ini seperti yang pernah di wanti-wanti Rasulullah SAW:
Usamah bin Zaid, beliau berkata, “Katakanlah wahai Rasulullah, aku tidak pernah melihatmu berpuasa selama sebulan dari bulan selain di bulan Sya’ban”. Nabi saw bersabda,
ذلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.” (HR. An Nasa’i. hadits hasan.)
Hadis itu menyatakan tak sedikit mereka lalai akan keutamaan Rajab dan Sya’ban untuk menghadapi Ramadhan.  Kedua bulan itu, terlebih Sya’ban, merupakan bulan tatkala segenap amalan langsung diangkat ke hadapan Allah SWT. Dan, Rajab laksana terminal utama untuk pemberhentian berikutnya, yakni Sya’ban dan Ramadhan. 


Maksud Penekanan Ibadah di Ke 3 Bulan
Penekanan ibadah itu,  bukan berarti hanya berfokus di tiga bulan tersebut. Melainkan, intensitas ibadah di ketiga bulan itu memiliki dampak yang luar biasa, yakni pemaksimalan Ramadhan. Hal utama  yang mesti dilakukan ialah mengatur niat. Perbaruilah niat selalu. Niat yang terbarukan akan membantu mendongkrak semangat ibadah.   Selain itu, perbanyaklah melaksanakan puasa di bulan  Rajab dan bulan  Sya’ban.   Anjuran-anjuran tertentu berikut keutamaan berpuasa di bulan Rajab, memang beberapa hadisnya dikategorikan lemah. Namun, berpuasa pada bulan Rajab  landasannya  secara umum hadis-hadis berpuasa di bulan-bulan mulia (asyhur al hurum).  Karena bulan Rajab adalah salah satu dari bulan  haram, sebagaimana firman Allah swt :
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ   )سورة التوبة: 36 (
"Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang  lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu.” (QS. At-Taubah: 36)
Di bulan-bulan  haram ini kita dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, terutama puasa. Rasulullah saw bersabda:
 أفضل الصلاة بعد المكتوبة الصلاة في جوف الليل وأفضل الصيام بعد شهر رمضان الشهر الذي يدعونه المحرم
"Shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat di penghujung malam, dan puasa yang paling utama setelah bulan Ramadhan adalah pada bulan yang disebut dengan Muharram." 
 ( HR. Muslim: 1163 )
صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ  (رواه أبو داود ، رقم 2428 وضعفه الألباني في ضعيف أبي داود  (
“Berpuasalah di (bulan-bulan) Haram dan tinggalkanlah.”  (HR. Abu Daud, 2428 dan dilemahkan  oleh  Al-Bany dalam kitab Dhaif Abu Daud)
Sedangkan berpuasa Sya’ban,  sebagaimana disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari Muslim dari Aisyah ra. Rasulullah paling tampak berpuasa sunah di Sya’ban.
Diantara  pelaksanaan puasa pada bulan tersebut  dilakukan sebagai persiapan dan pemanasan menghadapi Ramadhan.  Selain itu, Imam   Ibnu Hajar menjelaskan bahwa amalan  sholeh di bulan  Rojab dan khususnya Sya’ban sering terlupakan.  Sebagaimana yang disebutkan hadist Rasulullah saw riwayat  Usamah bin Zaid.

Kegiatan Ibadah Di Bulan  Sya’ban
Tarhib Ramadhan
Kegiatan  yang bisa kita lakukan pada bulan Sya’ban   dalam rangka untuk   persiapan  Ramadhan adalah  berbagi kabar gembira dan memotivasi sesama. Ini bagus kita lakukan sejak bulan Rajab, yaitu saling memberitahu  keutamaan Ramadhan.  Rasulullah saw  dalam rangka tarhib Ramadzan   dalam hadis  yang diriwayatkan oleh Imam  Nasai. “Telah datang kalian Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah mewajibkan atas kalian berpuasa. Pintu langit dibuka dan pintu neraka ditutup.”
Penyiapan Spiritul
Saat datang Bulan Sya’ban kalau perlu bulan sebelumny, yaitu Rajab,   mulai tingkatkan  frekuensi penempaan spiritual. Karena  bulan Ramadhan adalah madrasah dan tempat  penempaan bagi orang-orang yang bertakwa. Pembiasaan sejak dini, sebelum datangnya Ramadan, yaitu sejak bulan Rajab dan bulan Sya’ban  akan mempermudah program ibadah sepanjang Ramadhan. Mulai dari hal-hal yang kecil, seperti menjauhi perkataan  yang sia-sia, ungkapan-ungkapan yang jorok. Karena jika  hal-hal tersebut tak dihindari, ucapan-ucapan yang tak pantas itu bisa merusak pahala Ramadhan.  Nabi sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْجَهْلَ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ   (رواه البخاري، رقم 1903- 6075 (
“Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta, bersikap bodoh dan beramal dengannya. Maka Allah tidak butuh dari meninggalkan makan dan minumnya.” (HR. Bukhari, 1903, 6075)
Perkataan keji, nista dan dusta mencakup semua perkataan haram seperti bohong, mengguncing, namimah (mengadu domba), menghina dan menghardik, perkataan jorok dan  lain sebagainya.
Nabi saw  bersabda:
 إِذَا أَصْبَحَ أَحَدُكُمْ يَوْمًا صَائِمًا فَلا يَرْفُثْ ، وَلا يَجْهَلْ ، فَإِنْ امْرُؤٌ شَاتَمَهُ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ إِنِّي صَائِمٌ  (رواه البخاري، رقم 1894 ومسلم، رقم 1151 )
“Barangsiapa salah satu di antara kalian di pagi hari dalam kondisi berpuasa, maka jangan berkata jorok dan jangan bersikap bodoh. Kalau ada seseorang yang menghardiknya atau menghinanya maka katakan kepadanya, sesungguhnya saya sedang puasa, sesungguhnya saya sedang puasa." (HR. Bukhari, no. 1894 dan  Muslim, no. 1151)

Menyambung Silaturrahim
Amalan lain yang bisa kita lakukan pada bulan Sya’ban dalam rangka mempersiapkan kedatangan bulan  Ramadzan adalah  menyambung  dan menjaga silaturahim.  Menyambung silaturrahim artinya adalah menyambung kembali silaturrahim yang  pernah putus di karenakan banyak hal, seperti pertikaian, perselisihan dan lain sebagainya. Sedangkan menjaga silaturrahim adalah memperkuat silaturrahim yang sudah ada, dan tidak putus agar lebih kuat dan lebih kokoh.
Ada banyak faedah di balik memperkuat tali silaturahim. Menyambung silaturahim akan memperbanyak rezeki dan menjadikan umur bertambah berkah. Dari bersilaturahim pula akan mengikis kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat. Dengan demikian, saat Ramadhan tiba, kondisi diri telah siap dan bersih.
Membayar Hutang Puasa Ramadhan
Penting untuk dilakukan dan diperhatikan  adalah  segera  membayar hutang puasa Ramadhan yang terlewat.  Terutama kaum wanita, yang bisa dipastikan punya hutang puasa Ramadzan. Para ulama sepakat, hendaknya seseorang membayar hutang puasa wajib terlebih dahulu dan lebih utama sebelum menunaikan puasa sunah.

Melatih Bersedekah
Yang tak kalah penting juga  yang kita bisa lakukan dan kita biasakan pada bulan Rajab ini adalah membiasakan diri  untuk bersedekah.  Bersedekahlah dari sekarang. Mulailah dari yang kecil.  Lakukan yang mampu untuk dilakukan.
Kenapa demikian? Karena pahala tiap amalan selama Ramadhan akan dilipatgandakan, tak terkecuali bersedekah.
Bagaimana melatih diri kita untuk sedekah?  Ini bisa dimulai dengan membiasakan diri memberikan makanan bagi fakir miskin. Berbagi makanan, terlebih untuk berbuka, sarat dengan pahala.  Rasulullah saw bersabda:
Dari Zaid bin Kholid AL-Juhani berkata, Rasulullah sallallahu’alaihi wa sallam bersabda:
مَن فطَّر صائماً كان له مثل أجره غير أنه لا ينقص من أجر الصائم شيء " . رواه الترمذي ( 807 ) وابن ماجه ( 1746 ) وصححه ابن حبان ( 8 / 216 ) والألباني في " صحيح الجامع " ( 6415 )
“Barangsiapa yang memberi buka orang puasa, maka baginya pahala semisalnya tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sedikitpun.” HR. Tirmizi, 807. Ibnu Majah, 1746. Dan dishohehkan oleh Ibnu Hibban, 8/216. Dan oleh Al-Bany di shoheh Al-Jami’, 6415.
Rasul menegaskan bahwa sedekah berupa pemberian menu berbuka tersebut diganjar dengan pahala puasa dari penerima sedekah. “Tanpa kurang sedikit pun,”
Kala Rojab datang berarti Ramadhan  sebentar lagi menjelang. .  Hadapkan  ruhani, pikiran, sosial dan fisik kita untuk menyambut masa panen pahala. Ini perlu kesadaran dari kita. Bukan hanya kesadaran pribadi, tapi perlu kesadaran pribadi, keluarga dan masyarakat.  Kalau tidak, maka  semua akan berlalu begitu saja, dan kita  akan memasuki Ramdzan dengan tanpa persiapan.
Kita mesti ingat, aktivitas kehidupan kita merupakan rutinitas yang secara otomatis akan jalan. Waktu akan terus berjalan, kita mau atau tidak.  Waktu akan terus mendekat, kita siap atau tidak.  Oleh karena itu mari kita siapkan diri untuk menyambutnya. Kita mulai dari sekarang, yaitu dengan menyambut datangnya bulan Rajab dengan aktivitas-aktivitas yang sudah penulis sampaikan di atas. Semoga Allah swt memudahkan kita semua untuk mempersiapkan diri di bulan Rajab ini, baik diri pribadi kita, keluarga kita dan masyarakat kita.

Rabu, 25 Maret 2020

Mengambil Sikap Yang Bijak

Hari ini Rabu, 25 Maret 2020, terjadi banyak polemik di masyarkat, termasuk tempt tinggal saya di Kota Tangerang Selatan, Banten, yaitu saat ada yang meninggal. Masyarakat dan lingkungan banyak berbisik-bisik tentang yang meninggal, apalagi kalau yang meninggal itu orang  lansia di atas 60 tahun, Memang saat ini virus Corona menjadi pandemi.  Mereka ada yang membisikkan orang tersebut karena Corona. Yang lain mengatakan belum tentu. Hal ini menjadikan keluarga yang kesusahan menjadi resah dan galau. Apalagi bisikan-bisikan tersebut ditulis ke medsos, akan menjadi viral  dan berita yang hangat.
Siapakah yang kompeten menanganinya? Siapa yang kompeten mengumumkan? Bagaimana kita menyikpinya?

Dalam kondisi seperti ini menurut saya:
1. Menjaga lisan lebih baik. Karena  saat ini berita benar bisa dibilang hoax, hoax bisa dibilang berita benar. Maka tatkala kita diam terlepas dari kedua hal tersebut.
2. Laporkan kejadian tersebut kepada instansi yang kompeten dalam hal ini, mulai dari RT, RW, Puskesmas Setempat, bahkan Dinas Kesehatan, untuk memastikan perihal kematian tersebut. Tidak bijak bila kita mengatakan dan memastikan meninggal karena Corona, atau bukan karena Corona sebelum dipastikan instansi terkait. Ini erat kaitannya dengan keselamatan keluarga yang ditinggal terutama lingkungan sekitar dan masyarakat banyak.
3. Pegangan  informasi kembalikan kepada yang punya otoritas, yaitu pemerintah, dinas / jawatan, ahli dibidangnya. Sehingga kita tidak kehilangan pedoman.
4. Informasi yang sampai kepada kita cukup kita keep di rumah kita saja. Sebab berapa bantak  minta konfirmasi berita ternyata menjadi berita. Contoh :
Ada berita  tentang  sesuatu  di blog E.  Pertanyaan adakah yang tahu kebenarannya?
Ternyata permintaan konfirmasi tersebut ditangkap menjadi berita bagi orang lain.
5. Menyikapi berita apapun, positif atau negatif, cukup  kita jadikan pelajaran buat kita  agar kita berhati-hati.
6. Tetap menjaga kekompakan dan solidaritas dilingkungan kita, kita ikuti arahan RT / RW kita, kita dengarkan nasehat sesepuh kita karena  kita satu lingkungan satu tempat tinggal.

Salam cinta dan  kompak selalu.

Jumat, 20 Maret 2020

Tadabbur Surat Attin ayat 1-8



Oleh:

Ust. Masturi Istamar Suhadi, Lc. MPhil

وَالتِّينِ وَالزَّيْتُونِ (1) وَطُورِ سِينِينَ (2) وَهَذَا الْبَلَدِ الْأَمِينِ (3) لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ (4) ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ (5) إِلَّا الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ فَلَهُمْ أَجْرٌ غَيْرُ مَمْنُونٍ (6) فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ بِالدِّينِ (7) أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ (8)
Artinya:
1. demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun[1587],
2. dan demi bukit Sinai[1588],
3. dan demi kota (Mekah) ini yang aman,
4. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya .
5. kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka),
6. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnya.
7. Maka Apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?
8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?



Mukoddimah

Karakteristik Surat Attin :
Artinya  :        Buah Tin
Klasifikasi:      Makkiyah
Surah ke :       95
Juz :         Juz 30
Jumlah ayat   : 8 ayat

Surah At-Tin  adalah surah ke-95 dalam al-Qur'an. Surah ini terdiri atas 8 ayat dan termasuk golongan surah Makkiyah. Surah ini diturunkan setelah surah Al-Buruj. Nama At-Tin diambil dari kata At-Tin yang terdapat pada ayat pertama surah ini yang artinya buah Tin.
 

Mufrodat / Kosa-Kata

و  : Demi – Qosam / Sumpah
وَالتِّـيْنِ    : demi buah Tin
 وَالزَّيْـتُوْنِ  : dan (buah) Zaitun
وَطُوْرِ سِيْـنِيْنَ    :  bukit Sinai    
 الْبَلَد الأَمِيْنِ  :  negeri (kota) yang aman ( Makkah ) artinya dan demi kota (Mekah) ini yang aman”
أَحْسَنِ   تَقْوِيْم     :  sebaik-baik bentuk (kejadian)
أَسْفَلَ  سَافِلِيْنَ   :  tempat yang rendah    Lebih rendah/paling rendah
رَدَدْنَاهُ   :  Kami kembalikan dia,  artinya:”Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka)” (5)
أَجْرٌ غَيْرُ  مَمْـنُوْنٍ    :   pahala bukan/tidak terputus
  فَمَا يُكَذِّبُكَ بَعْدُ  بِالدِّيْنِ:  artinya:”Maka apakah yang menyebabkan kamu mendustakan (hari) pembalasan sesudah (adanya keterangan-keterangan) itu?” (7)
أَلَيْسَ   اللَّهُ  بِأَحْكَمِ  الْحَاكِمِيْنَ:   Bukankah Allah  Hakim  lebih bijaksana/seadil-adilnya
         

Asbab Nuzul

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa firman Allah at-Tiin ayat 5 “kemudian Kami kembalikan Dia ke tempat yang serendah-rendahnya” mengandung arti dikembalikan ke tingkat pikun (seperti bayi lagi). Sehubungan dengan hal ini, Rasulullah saw pernah ditanya tentang kedudukan orang-orang pikun. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (at-Tiin ayat 6), yang menegaskan bahwa mereka yang beriman dan beramal sholeh sebelum pikun, akan mendapat pahala yang tiada putus-putusnya.

قالَ جَلاَلُ الدِّينِ عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ أبي بَكْرٍ السُّيُوطِيُّ (ت: 911هـ): (قوله تعالى: {ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ}
أخرج ابن جرير من طريق العوفي عن ابن عباس في قوله: {ثُمَّ رَدَدْنَاهُ أَسْفَلَ سَافِلِينَ} قال: هم نفر ردوا إلى أرذل العمر على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم فسئل حين سفهت عقولهم، فأنزل الله عذرهم أن لهم أجرهم الذي عملوا قبل أن تذهب عقولهم). [لباب النقول: 299]


Ma’na Umum Ayat


Allah swt bersumpah dengan sesuatu yang penting, yaitu dengan  : 
1. Buah tin dan zaitun, 
2. Bukit Tursina, 
3. Kota mekkah.   
Ini menunjukkan keutamaan  hal-hal tersebut di atas. 

Ini bisa juga ditafsirkan dengan tempat dari ketiga hal yang disebut, yaitu :
1. Asal buah Tien dan Zaitun, yaitu negeri syam  ( Syria, Lebanon,  Palestina ) 
2. Bukit Sinai yaitu sebuah gunung (bukit) tempat Allah berbicara langsung kepada Nabi Musa as. 
3. Kota Makkah diutusnya Nabi Muhammad saw, 
Ketiga tempat  di atas menunjukkan 3 risalah Allah swt:
Nabi  Isa,  Nabi Musa, Nabi Muhammad saw.  Melalui Rasulullah saw  telah memberi tahukan kepada kita , jalan selamat adalah  mengikuti ajaran  Allah swt, yaitu Islam. Dan kesengsaraan  bagi orang yang mendustakan islam dan tidak mengikutinya. 

Allah swt adalah hakim yang paling adil, manusia akan mendapatkan balasan sesuai dengan apa yang telah diusahakannya salama hidup di dunia,  pembalasan itu karena hasil tindakan manusia, dan bukan karena  Allah swt berbuat dholim.
  

Pelajaran
 1.  Allah swt bersumpah dengan sesuatu yang penting.
2. Sumpah itu untuk menegaskan tentang  manusia sebagai makhluk yang paling  sempurna.
3.   Sumpah itu juga menegaskan, kemuliaan manusia akan berobah menjadi kehinaan  bila tidak diisi dengan iman dan amal sholeh.
4.   Jalan keselamatan adalah dengan mengikuti ajaran islam, sedangkan kesengsaraan adalah dengan mendustakan ajaran Islam.
5.   Allah swt Maha Adil, balasan baik dan buruk yang diterima oleh manusia adalah hasil  dari  tindakannya sendiri.

Penutup

Semoga Allah swt menjadikan kita tetap menjadi hamba-hamba yang mulia, dan menjaga kita dari kembali ke tempat yang hina di dunia dan akhirat. Amin

Bahan Bacaan:
Tafsir Atthobari
Tafsir Ibnu katsir
Lubabunnuqul  fi asbabinnuzul

Virus Corona - Menjaga Lebih Baik

by : Masturi Istamar, Lc., M.Phil.,
Dosen dan Penggiat Sosial Kemasyarakatan

Dalam menghadapi polemik masalah   berbagai aktivitas yang mengumpulkan orang banyak,  termasuk pelaksanaan ritual keagamaan, antara dilaksanakan atau tidak ? Terutama di kalangan umat Islam seperti sholat lima waktu berjamaah di Masjid, bahkan  pelaksanaan sholat Jumat,  bagimana menyikapinya?

Menurut saya,  kita ikuti penetapan 2 pekan  16 Maret 2020 - 30 Maret 2020, yang ditetapkan pemerintah untuk tidak berinteraksi dengan orang banyak.  Sehingga selama 2 pekan itu :

1. Tidak berjamaah di masjid dan berjamaah di rumah.  Saat inilah sholat di rumah pahalanya lebih banyak daripada di masjid. Belum tentu kesempatan ini datang di waktu yang lain.

2. Tidak Sholat Jumat, karena  posisi hifdzunnafsi itu lebih tinggi daripada menegakkan syiar, apalagi yang punya otoritas menyelenggarakan syiar yaitu pemerintah dan ulama sudah menyampaikan fatwanya.

3. Kita tidak ke masjid bukan  hanya takut ketularan. Kalau ketularan dan mati, insyaallah mati syahid.
Kalau saya sendiri justru khawatir menulari, karena kita tidak bisa memastikan kita bebas virus. Kalau menulari, yang kita tulari adalah orang beriman. Bisa dibayangkan dosa yang kita tanggung bila kita menulari, yang kita tulari menulari orang lain dan seterusnya.

Bisakah kita menghentikannya?  Saya teringat dengan surat An Nur ayat 19.

" Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui."

Wallahu a'lam.

دعاء تحصين البيوت (Doa Membentengi Rumah)

Dalam suasana menghadapi penyebaran  virus Corona - Covid 19 -  yang meland dunia secara umum dan negara  kita Indonesia secara khusus, maka alangkah baiknya kita baca doa-doa yang membentengi rumah dan keluarga kita. Silahkan di baca, dihafalkan dan dirutinkan untuk dibaca. Semoga Allah swt lindungi rumah kita dan keluarga kita dari semua hal yang buruk dan semua penyakit yang jahat. Amin. 

دعاء تحصين البيوت
Doa Membentengi Rumah
اللهم املأ بيوتنا بالعفو والعافية
Ya Allah penuhilah rumah-rumah kami dengan ampunan  dan kesehatan
اللهم واصرف عن بيوتنا البلاء وأسباب الشقاء
Ya Allah, jauhkanlah dari rumah-rumah kami   bala’ ( bahaya ) dan berbagai sebab kesengsaraan.
اللهم اجعل بيوتنا تمسي وتصبح على ذكرك وشكرك وحسن عبادتك
Ya Allah, jadikanlah rumah-rumah kami sepanjang petang dan sepnjang pagi dalam suasana berdzikir kepada-Mu, terus bersyukur kepada-Mu dan melaksanakan ibadah terbaik kepada-Mu
اللهم لا تدع في بيوتنا ولا بيوت المسلمين هما إلا فرجته
Ya Allah jangan Engkau tingglkan di rumah-rumh kami dan rumah-rumah orang muslim kesedihan kecuali  Engkau karuniakan  jalan keluar
ولا كربا إلا نفثته
Tidak pula   kesulitan hidup, kecuali Engkau karuniakan solusi.
ولا مريضا إلا شفيته
Tidak pula sakit kecuali Engkau karuniakan kesembuhan
ولا مبتلى إلا عافيته
Tidak pula ujian hidup,  kecuali Engkau karuniakan kemudahan
ولا غائبا إلا رددته
Tidak pula orang yang bepergin, kecuali Engkau kembalikan dalam  keadaan selamat
ولا ولدا إلا أصلحته
Tidak pula anak-anak kecuali Engkau jadikan mereka sholih dan sholihah
ولا والدا إلا وفقته
Tidak pula orang tua, kecuali Engkau mudahkan mereka untuk mendidik anak-anak
ولا مريضا إلا شفيته  
Tidak pula orang sakit, keculi Engku karuniakan kesembuhan
ولا دينا إلا قضيته
Tidak pul hutng,kecuali Engkau mudahkan membayarnya

ولا عقيما إلا وهبته
Tidak pula orang mandul, kecuali  Engkau karunikan kepdanya keturunan
برحمتك وجودك وعطائك
Dengan segala kasih sayang-Mu, kedermawan-Mu dan karunia-Mu
يا أكرم الأكرمين
Wahai Dzat yang Maha Pemurah

Rabu, 11 Maret 2020

Mengidentifikasi Aliran Sesat


Betapa banyak peristiwa yang menyita perhatian kita semua sebagai bangsa Indonesia. Apalagi sebagai umat Islam. Karena semua peristiwa ini seakan menjadi PR bagi umat Islam yang harus diselesaikan. PR yang silih berganti, belum selesai satu PR sudah ada PR yang baru. Ditambah lagi kondisi internal umat Islam sendiri sedang acak-acakan. Tidak kompak, tidak menyatu ditambah berbagai macam masalah yang tidak bisa diselesaikan.
Baru kemarin 14 Januari 2016 terjadi peledakan bom. Seakan  semua mata mengarah kepada Umat Islam. Semua telunuk seakan menuding umat Islam sebagai pelakunya. Wallahul musta’an. Saat ini juga marak kebejatan moral dengan munculnya LGBT secara demonstrative di masyarakat. Semua masmedia membicarakan dan menjadikannya headline.  Sebelum  itu semua isu Gerakan Fajar Nusantara ( GAFATAR ), yang disinyalir merupakan aliran yang menyimpang dari Islam, tapi mengaku Islam.

Mendeteksi Penyelewengan
Bagaimana kita mengenal sebuah kelompok, atau komunitas itu menyeleweng dari ajaran Islam atau tidak?
Dalam kehidupan bermasyarakat, ketika kita perhatikan ada dua sisi penting yang ada pada mereka, yaitu :
1.        Mafahim ( paradigm /  pola pikir )
2.        Suluk ( perilaku / tindakan )
Dua hal ini adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya saling mempengaruhi dan saling mewarnai.  Dalam  hal yang benar seseorang yang berpola pikir benar, maka akan menjadikan perilakunya benar. Orang yang berperilaku salah,  kebanyakan dikarenakan pola pikir yang salah juga.
Dalam  kesalahan, pola pikir yang salah lebih bahaya daripada orang yang berperilaku yang salah.
Orang yang  berpola pikir  benar, namun dalam perilakunya salah, maka ia mudah untuk diingatkan dan diperbaiki. Karena pola pikirnya benar, dan perilakunya salah. Karena ia merasa tindakannya yang salah sehingga perilakunya  disesuaikan dengan pola pikir  yang benar tadi.  Sebaliknya, orang yang berpola pikir salah, tapi perilakunya benar, maka ia melakukan amal tersebut bukan karena kesadaran. Tetapi karena kondisi, ikut-ikutan dan seterusnya, sehingga suatu saat perilakunya yang benar itu akan dia tinggalkan mengikuti pola pikirnya yang salah. Sehingga kerusakan pola pikir lebih berbahaya daripada kerusakan perilaku. Walaupun secara kasat mata kerusakan perilaku kelihatan  kerusakannya besar. Seperti kerusakan materi, lingkungan dan seterusnya.
Bagaimana mengenal seseorang, sebuah komunitas atau kelompok itu menyeleweng atau tidak. Hal ini bisa kita lihat dari kedua sisi di atas, yaitu dari mafahim/paradigm berpikirnya dan suluk atau perilakunya.  Apabila terindikasi berbeda dengan pokok-pokok ( ushul Islam ) maka ia  menyeleweng. Bila menyeleweng maka sebenarnya ia sudah keluar dari Islam.
Pertama : Dari sisi mafahim.
Mafahim yang dilihat di sini  ada dua mafahim ( pola piker ).
Pertama : Pola piker akidah  ( mafahim aqidah ). Islam memiliki mafahim aqidah islamiyah  yang  jelas, dan tidak samar. Dengan mudah orang akan mengetahuinya dan mengenalinya.   Ushul Aqidah Islam adalah hal yang aksiomatik, yang mudah diketahui oleh  kebanyakan umat Islam, sekalipun ia bukan seorang ulama Islam. Ushul Aqidah islam ini terjelma dalam rukun Iman. 
Rukun Iman ada enam, yaitu: 1. Iman kepada Allah swt  2. Iman kepada hari akhir. 3. Iman kepada para Malaikat Allah swt 4. Iman kepada kitab-kitab Allah swt. 5.Iman kepada Para Rasul  Allah swt. 6. Iman kepada Qodho dan Qodar.
Ini adalah merupakan ushul, atau pokok keimanan ajaran Islam. Apabila ada orang, atau komunitas atau kelompok yang mengingkari salah satu dari rukun Iman ini, maka bukan merupakan perbedaan yang dibolehkan. Bila berbeda, berarti beda agama.
Dengan melihat dari sisi  Pokok Akidah ini, maka dengan mudah kita akan mendapatkan, itu sesat atau tidak.

Kedua : Mafahim Minhaj Islamy ( cara pandang terhadap Islam )
Allah swt dan Rasul-Nya menyuruh kepada kita untuk menjadikan Islam sebagai:
1.    Jalan Hidup, yang menjadikan kehidupan kita harus  mengikuti rel-rel Islam.
2.    Arah hidup, yaitu menjadikan Islam sebagai patokan untuk menjalani kehidupan Ini.
Allah swt berfirman: “ Masuklah  kamu  ke dalam Islam secara keseluruhan.”
“ Apakah kalian beriman dengan sebagian isi Al Quran dan kafir dengan sebagian yang lain?. Apakah kalian tidak berpikir?”
“ Katakanlah, sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku  hanyalah untuk Allah semata.”
Rasulullah saw mengajarkan kepada kita hidup dalam Islam. Mulai bangun tidur kita di ajarkan berdoa.  Sampai tidur lagi, kita diajarkan berdoa.  Mulai dari bangun tidur, sampai tidur lagi itulah aktivitas kita. Dan  semua aktivitas itu  diatur oleh Islam.  Sehingga Islam adalah system kehidupan itu sendiri. Apabila ada orang yang tidak menjadikan Islam seperti ini, maka ia akan sesat dan akan berujung kepada kesesatan.
Misalnya:   orang menganggap bahwa Islam itu hanya di mesjid. Di luar masjid tidak mesti Islam.   Maka nanti yang terjadi adalah ketika di masjid khusyu sholat, namun ketika di  luar bisa saja mabuk.
Seperti ungkapan , “ Ibadah ya ibadah, bisnis ya bisnis.” Artinya adalah ketika kita  sholat di masjid harus khusyu, namun ketika bisnis yang penting adalah untung apapun caranya. Halal haram hantam saja.  Mafahim yang sesat ini akan menyesatkan  ke mana-mana.
Bagaimana kita mengetahui mafahim seseorang? Padahal ia adalah merupakan hal yang abstrak dan tidak bisa dilihat?
Kita bisa mengetahuinya dengan melalui beberapa hal berikut:
a.     Dengan berdialog
b.    Dengan mendengarkan pidato atau ceramahnya.
c.     Melalui tulisannya  di majalah atau bulletin
d.    Melalui  buku karangannya.
Dengan melalui media-media di atas, maka kita akan tahu dengan mudah paradigm ( mafahim seseorang )

Sisi yang kedua : Dengan melihat suluk atau perilakunya.
Perilaku akan mudah  untuk diketahui, karena ia kelihatan dan Nampak kasat mata.  Suluk atau perilaku yang dilihat ada 3:
a.     Suluk Taabbudy ( tatacara peribadatan ), yaitu tata cara peribadatan
b.    Suluk ijtima’iy ( perilaku social )
c.     Suluk Akhlaqy, perilaku akhlaq atau moral.
Perilaku peribadatan .
Islam memiliki perilaku peribadatan yang sudah ditetapkan oleh Syariat. Ushul atau pokok peribadatan dalam Islam terjelma dalam rukun Islam. Rukun Islam  yang lima sudah kita kenal semuanya. Rukun Islam  itu:
1.    Membaca dua kalimah syahadat
2.    Mendirikan sholat
3.    Melaksanakan puasa Ramadhan
4.    Membayar Zakat
5.    Melaksanakan Haji bagi yang mampu.
Pokok-pokok peribadatan Islam ini merupakan hal yang mudah untuk dikenali, sekalipun oleh orang awam  sekalipun.
Bila ada orang, atau komunitas atau kelompok, mengingkari atau tidak melaksanakan salah satu dari rukun ini, maka ia jelas sesat. Bahkan kafir.

Yang kedua  dari suluk adalah suluk ijtimaiy, yaitu perilaku social dan komunikasi dengan sesame manusia. Islam mengajarkan kepada kita pokok perilaku social yang harus kita laksanakan. Ini terjelma dalam kandungan Syariat Islam dalam Muamalah.  Seperti hubungan laki-laki dan perempuan yang dihalalkan hanya melalui pernikahan. Dibolehkannya jual-beli dan diharamkannya riba. Orang menghutang harus membayar, sekalipun yang dihutangi itu orang berbeda akidah. Dan lain sebagainya.
Apabila ada orang, komunitas, kelompok yang melanggar hal di atas,  seperti membolehkan zina, atau membolehkan riba, membolehkan menipu yang penting bukan kelompok sendiri, maka  ia telah melanggar muamalah Islamiyah.  Apabila  mereka membolehkan melanggar hal-hal di atas maka telah sesat.

Yang ketiga  dari suluk itu adalah suluk akhlaqy, atau perilaku akhlaq.
Pokok-pokok akhlaq  sangat mudah diketahui oleh semua umat Islam. Karena ia adalah merupakan hal yang aksiomatik.  Pokok-pokok akhlaq ini antara lain adalah:
Haram minum khomr, diharamkannya zina, diharamkannya mencuri, diharamkannya membunuh dan lain sebagainya.
Hal-hal tersebut adalah merupakan ushul akhlaq yang semua umat Islam sudah mengetahuinya.   Bila ada orang, atau komunitas menghalalkan hal-hal di atas,  seperti membolehkan membunuh, maka jelas ia bukan ajaran Islam.  Dengan demikian  dengan mudah kita akan mengetahui benar dan salahnya sebuah ajaran bila diukur dengan ajaran Islam.
Demikianlah, semoga kita bisa memahaminya dengan baik. Jangan sampai kita dan masyarakat terjerumus dalam kesesatan, sementara tidak menyadarinya bahkan sebaliknya merasa benar. Amin



Bagaimana aliran-aliran sesat itu menyesatkan seorang muslim? 
Mereka menyesatkan dengan melalui 3 hal:
Pertama: Dengan menghilangkan logic. Kebanyakan aliran sesat, ajarannya tidak logis, dan para pengikutnya tidak menggunakan logikanya. Karena memang sengaja dihilangkan peran logika itu. Karena logika itu dipakai, maka runtuhlah ajaran sesat itu. Misalnya dengan menghilangkan kesadaran otaknya. Atau dengan mengatakan, agama jangan dilogikakan, kalau agama dilogikakan akan sesat. Dan seterusnya. Padahal logika ( akal ) adalah salah satu dasar dari taklif ( tuntutan syariat). Dan senantiasa mendampingi syariat setiap saat, dan tidak pernah terlepas dari syariat.
Kedua: Dengan meningkatkan peran perasaan, karena perasaan itu tidak ada ukurannya dan tidak ada batasnya. Dan perasaan menjadi sandaran doktrin dan ajaran. Apalagi bila perasaan itu tidak dilandasi dengan logika.  Perasaan  ini seperti perasaan cinta, perasaan benci, perasaan marah, perasaan dendam dan seterusnya. Perasaan-perasaan di atas kalau dibiarkan liar tanpa pengawalan logika dan ilmu syariat, maka akan rusak dan merusak.
Ketiga: Dengan menjauhkan dari ulum syar’iyyah dan para ulama.
Ilmu syariah dan ulama dijauhkan dengan berbagai alas an. Seperti saya tidak berbicara menurut fikih, menurut hadist, menurut tafsir dan lain sebagainya. Alasannya fikih pasti ada perbedaan pendapat. Hadist ada yang shohih ada yang dhoif. Tafsir, semua orang punya penafsiran yan berbeda.  Begitu juga dijauhkan dari para ulama. Alasan mereka berbicara dengan menggunakan hati. Karena  semua orang punya hati. Sehingga tidak akan berbeda. Padahal ilmu-ilmu syariat tadi dikodifikasi oleh para ulama dalam rangka untuk menjaga syariat.  
Oleh karena itu, gunakan selalu logika. Karena logika adalah landasan agama. Logika lah yang dibimbing wahyu. Bukan menghilangkan logika. Jadikan perasaan itu dibimbing oleh logika dan wahyu, bukan dibiarkan liar, tanpai bimbingan logika dan wahyu. Karena perasaan itu  tidak ada batasnya. Ulum syariyyah fikih, hadist, ushul fiqih, tafsir, ulumul quran dan  para ulama harus dilibatkan. Bila tidak hasilnya adalah sesat.