Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Maret 2019

Pengertian Akhlak

( Seri Kandungan Syariat Islam )
Akhlak menurut bahasa berasal dari bahasa Arab khuluq. Ia merupakan bentuk jamak,  artinya perangai, tabiat, dan agama.  
Kata tersebut mengandung segi-segi persesuaian dengan perkataan khalq yang berarti “kejadian”, serta erat hubungannya denga  kata khaliq yang berarti “pencipta” dan makhluq yang berati “yang diciptakan”.  (Rosihon Anwar 2010:11).

Khuluq adalah  kelakuan manusia yang membedakan baik dan buruk, lalu disenangi dan dipilih yang baik untuk dipraktekkan dalam perbuatan, sedang yang buruk di benci dan dihilangkan. (Marzuki 2012:173 (Ainan, 1985:186)). 
 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ( KBBI ) Edisi ke-5, akhlak adalah budi pekerti.  Sedangkan, budi pekerti adalah kata majemuk perkataan budi dan pekerti, gabungan kata yang berasal dari bahasa Sanksekerta dan bahasa Indonesia. 

Dalam bahasa Sanksekerta, budi artinya alat kesadaran atau batin, sedangkan dalam bahasa Indonesia pekerti berarti kelakuan.  Sehingga budi pekerti ialah tingkah laku, perangai, danakhlak. Budi pekerti mengandung makna perilaku yang baik, bijaksana, dan manusiawi.


Terminologi Akhlak
Sedangkan menurut istilah, akhlak adalah daya kekuatan jiwa yang mendorong perbuatan dengan mudah dan spontan tanpa dipikir dan direnungkan lagi.
 

Dengan demikian, akhlak pada dasarnya adalah sikap yang melekat pada diri seseorang secara spontan diwujudkan dalam tingkah laku atu perbuatan.

Pengertian akhlak menurut ulama akhlak 


Profesor Dr. Ahmad Amin

"Akhlak ialah kehendak yang dibiasakan dan ia akan menjadi kebiasaan yang mudah dilakukan."

Ibnu Maskawaih (941-1030 M) 
“Keadaan jiwa seseorang yang mendorong untuk melakukan perbuatan-perbuatan tanpa melalui pertimbangan pikiran terlebih dahulu. Keadaan ini terbagi dua, ada yang berasal dari tabiat aslinya, adapula yang diperoleh dari kebiasaan berulang-ulang. Boleh jadi,pada mulanya tindakan itu melalui pikiran dan pertimbangan,kemudian dilakukan terus menerus,maka jadilah suatu bakat dan akhlak.”

Imam Al-Ghazali (1055-1111 M)
“Akhlak adalah daya kekuatan (sifat) yang tertanam dalam jiwa yang mendorong perbuatan-perbuatan yang spontan tanpa memerlukan pertimbangan pikiran.”

Muhyiddin Ibnu Arabi (1165-1240 M).
“Keadaan jiwa seseorang yang mendorong manusia untuk berbuat tanpa melalui pertimbangan dan pilihan terlebih dahulu. Keadaan tersebut pada seseorang boleh jadi merupakan tabiat atau bawaan dan boleh jadi juga merupakan kebiasaan melalui latihan dan usaga keras.”

Syekh Makarim Asy-Syirazi
“Akhlak adalah sekumpulan keutamaan maknawi dan tabiat batini manusia.”




Itulah  pengertian akhlak.  Akhlak adalag salah satu dari kandungan syariat Islam yang harus dijalankan oleh seorang muslim.

Rabu, 03 Juni 2015

Jangan Bilang Anakku Pintar

Tolong jangan bilang anakku “pintar”…
(Fixed Mindset Vs Growth Mindset)

Emangnya kenapa? Kata pujian “anak pintar” itu bukannya sebuah tanda penghargaan ya buat si anak? Plus dobel fungsi jadi topik obrolan basa-basi di ruang tunggu dokter, bangku di toko mainan, dan sambil mengawasi anak-anak main di taman? Triple plus di acara arisan keluarga, saat semua ponakan/cucu/kakak-adik lagi berkumpul bersama.

Lalu, ada apa dengan label “pintar” itu?

Beberapa bulan yang lalu, saya diberikan kesempatan untuk bantu menterjemahkan artikel pendidikan untuk sebuah program sekolah. Di antara sekian banyak artikel, satu yang benar-benar membuat saya berhenti, membaca berulang-ulang, dan berpikir kembali adalah artikel mengenai fixed vs. growth mindset.  Kedua kubu tersebut merupakan bahasan penelitian berjangka yang dilakukan oleh Carol Dweck, yg dipublish dalam bukunya yang berjudul Mindset: The New Psychology of Success (2006).

Dweck meneliti efek jenis pujian yang diberikan ke anak-anak:

satu kelompok dipuji “kepintarannya” (“You must be smart at this.”)

dan kelompok yang lain dipuji atas usaha (effort) mereka (“You must have worked really hard.”) setelah setiap anak menyelesaikan serangkaian puzzle non-verbal secara individual.

Puzzle di ronde pertama memang dibuat sedemikian mudah sehingga setiap anak pasti bisa menyelesaikannya dengan baik. Setelah dipuji, anak-anak tersebut diberikan pilihan jenis puzzle buat ronde kedua: satu puzzle yang lebih sulit daripada puzzle di ronde pertama, namun mereka akan belajar banyak dari mencoba menyelesaikan puzzle tsb; dan pilihan puzzle lainnya adalah puzzle yang mudah, serupa dengan yang di ronde pertama. 

Dari kelompok anak-anak yang dipuji atas usaha mereka, 90% anak-anak memilih rangkaian puzzle yang lebih sulit. Mereka yang dipuji atas kepintarannya sebagian besar memilih rangkaian puzzle yang mudah.

Lho, kenapa anak-anak yang dipuji “pintar” malah memilih puzzle yang mudah??

Menurut Dweck, sewaktu kita memuji anak karena kepintarannya, kita menyiratkan bahwa mereka harus selalu mempertahankan label “anak pintar” tsb, sehingga nggak perlu ambil risiko yang menyebabkan mereka akan berbuat salah alias terlihat “tidak pintar” (“look smart, don’t risk making mistakes.”)

Dalam ronde tes berikutnya, anak-anak itu tidak mempunyai pilihan: mereka semua harus menyelesaikan rangkaian puzzle yang diberikan memang dibuat sulit, 2 tahun di atas usia anak-anak itu. Seperti yang sudah diperkirakan, semua anak gagal menyelesaikannya. Namun, kelompok anak-anak yang dari awal dipuji atas usaha mereka menganggap mereka kurang fokus dan kurang keras upayanya untuk menyelesaikannya. Mereka menjadi sangat terlibat dan berusaha mencoba semua solusi yang dapat mereka pikirkan. Tak banyak dari mereka yang berkomentar bahwa “tes ini adalah yang paling saya sukai”.. kok gitu? Sedangkan kelompok yang dipuji atas kepintarannya menganggap kegagalan mereka sebagai bukti bahwa mereka sebenarnya memang tidak pintar. Tim peneliti mengamati bahwa anak-anak ini berkeringat dan tampak sangat terbebani selama mengerjakan tes.

Nah, setelah semua mengalami kegagalan, pada ronde tes terakhir, mereka diberikan tes yang dibuat semudah tes pada ronde pertama. Kelompok yang dipuji atas usaha mereka mengalami peningkatan skor hingga 30%. Sedangkan anak-anak yang diberitahu bahwa mereka “anak pintar” malah menurun skornya hingga 20%.

 

sudah curiga bahwa jenis pujian akan memberikan dampak, namun dia tidak menyangka sejauh ini efeknya. Menurutnya, “penekanan pada usaha memberikan anak-anak variabel yang bisa mereka kendalikan, mereka akan menilai bahwa mereka sendirilah yang pegang kendali atas kesuksesan mereka. Sedangkan penekanan pada kecerdasan alami justru mengambil kendali dari tangan anak dan menyebabkan cara berespons yang jelek terhadap sebuah kegagalan.”

Pada wawancara yang dilakukan setelahnya, Dweck menemukan bahwa mereka yang menganggap bahwa kecerdasan alami adalah kunci dari kesuksesan mulai mengecilkan pentingnya upaya yang diberikan. Penalaran mereka adalah “aku kan anak pintar, aku tidak perlu susah-susah berusaha”. Ketika mereka diminta untuk berusaha lebih keras, mereka malah menganggap hal tersebut sebagai bukti bahwa mereka nggak sepintar anggapan mereka. Efek jenis pujian ini terlihat pada penelitian yang dilakukan pada anak-anak pada kelas sosioekonomi yang berbeda-beda, baik pada laki-laki maupun perempuan, bahkan pada anak prasekolah juga menunjukkan adanya pengaruh.

Okay. Nafas dulu. Setidaknya, saya setelah baca hasil penelitiannya harus ambil nafas dan bercermin. Anak sulungku sudah sering dipuji “pintar”, alhamdulillah. Tapi memang pada beberapa kesempatan, dia enggan mencoba hal-hal baru (yang menurutnya susah) dan sempat mudah menyerah ketika mengalami hambatan, misalnya dalam upayanya membuat kreasi Lego sendiri (tanpa instruksi) atau saat dia latihan lagu piano yang lebih susah buat lomba. Kalau menggambar bebas, masih suka frustrasi saat “salah” dan minta ganti kertas atau malah ganti kegiatan yang lain. Oh my little boy, I’m so sorry. I didn’t know. Apalagi dia termasuk anak yang introvert dan lebih mudah cemas. Nah, jelas kan kenapa penelitian ini sangat menohok buat saya.

Meskipun saya dulu pernah baca artikel yang menyebutkan kenapa lebih baik memuji upaya daripada hasil, namun saya baru kali ini membaca penelitian yang terkait. Dan jadi sadar betul betapa besar efeknya jenis pujian yang kita berikan. Namun demikian, old habits die hard. Especially with the older generation. Gimana caranya saya ngasih tau ke mertua kalau mau muji cucunya tersayang, jangan bilang kalau dia “pinter” melainkan harus memuji upaya kerasnya? Padahal budaya kita sangat sarat dengan “label” pada anak-anak, dengan label “anak pintar” menjadi primadona segala label. Belum lagi kebiasaan membandingkan anak satu dengan anak lainnya, cucu satu dengan cucu lainnya. Oh boy, pe-er nya banyak banget ini.

Okay , balik lagi ke konsep growth vs. fixed mindset , jadi intinya anak-anak yang dipuji atas upaya mereka akan memiliki growth mindset, bahwa otak itu adalah sebuah otot, yang makin “dilatih” maka akan semakin kuat dan terampil. Dilatihnya ya dengan tantangan, masalah, dan kesalahan yang harus diperbaiki dan diambil hikmahnya. Sedangkan anak-anak dengan fixed mindset menanggap pintar/tidak pintar itu sudah dari sananya dan nggak bisa diubah. Jadi mereka cenderung menghindari hal-hal yang membuat mereka tidak terlihat pintar dan tidak menyukai tantangan, mementingkan hasil akhirnya.

Dweck memberikan beberapa perbedaan fixed vs. growth mindset dalam bukunya:

a.      Fixed mindset (FM)mengkomunikasikan ke anak-anak kalau sifat dan kepribadian mereka adalah permanen, dan kita sedang menilainya. Growth mindset (GM) mengkomunikasikan ke anak-anak kalau mereka adalah seseorang yang sedang tumbuh dan berkembang, dan kita tertarik untuk melihat perkembangan mereka.

b.     Nilai yg bagus akan diatribusikan pada “kamu emang anak yang pintar” pada FM. Sedangkan GM akan mengatakan “Nilai yg bagus!  Kamu telah berusaha keras/menerapkan strategi yang tepat/berlatih dan belajar/tidak menyerah.”

c.      Nilai yang jelek akan diartikan sebagai “kamu memang lemah pada bidang ini” dengan FM. GM akan mengatakan “saya suka upaya yang telah kamu lakukan, tapi yuk kita kerjasama lebih banyak lagi untuk mencari tahu bagian mana yang kamu belum pahami”. “Kita semua punya kecepatan belajar yang berbeda, mungkin kamu butuh waktu yang lebih lama untuk mengerti ini tapi kalau kamu terus berusaha seperti ini, aku yakin kamu akan bisa mengerti.” “Semua orang belajar dengan cara yang berbeda, ayo kita terus berusaha mencari cara yang lebih cocok untuk kamu.”

d.     FM: “wah, kamu cepet banget menyelesaikannya, tanpa salah lagi!” GM: “Ooops, ternyata itu terlalu mudah buat kamu ya. Saya minta maaf sudah membuang waktumu, ayo cari sesuatu yang bisa memberikan pelajaran baru buat kamu.”

e.      FM mementingkan kecerdasan atau bakat dari lahir. GM mementingkan proses belajar dan kegigihan berusaha (perseverance).

f.       FM percaya kalau tes mengukur kemampuan. GM percaya kalau tes mengukur penguasaan materi dan mengindikasikan area untuk pertumbuhan.

g.      Guru dengan FM menjadi defensif mengenai kesalahan yang dia lakukan. Guru dengan GM merenungkan kesalahannya secara terbuka dan mengajak bantuan dari anak-anak lagi supaya bisa menyelesaikan masalahnya.

h.     Guru dengan FM memiliki semua jawaban. Guru dengan GM menunjukkan ke anak-anak bagaimana dia mencari jawaban-jawaban tersebut.

i.        Guru dengan FM menurunkan standar supaya anak-anak bisa merasa pintar. Guru dengan GM mempertahankan standar yang tinggi dan membantu setiap siswa untuk mencapainya.
Hosh-hosh, mulai kelihatan kan bedanya? Kami sudah mulai berusaha mengubah cara kami memuji anak-anak, tapi menang butuh waktu dan upaya ekstra untuk mengubah kebiasaan yang sudah lama, apalagi dengan lingkungan teman-teman dan saudara dan orang-orang yang tidak dikenal yang SKSD. Plus, kosa kata “you worked hard… ” itu kalau diterjemahakan ke dalam Bahasa Indonesia itu masih terdengar tidak umum plus panjang, “kamu udah bekerja/berupaya keras ya untuk….”--- masih lebih praktis bilang “anak pinter”, hehehe. Yah, namanya juga sudah membudaya. Belum lagi ada ucapan bahwa kata-kata adalah doa. Akupun sepakat dengan itu. Jadi jangan salah sangka, bukannya nggak boleh memuji, tapi pujilah upaya mereka. Dan penelitian ini khusus berkenaan dengan persepsi terhadap kecerdasan ya, bukan label-label lain seperti sholeh/sholehah, rajin, empatik, penyayang, dsb. Jadi pentingnya perubahan mindset dari fixed menjadi growth supaya anak-anak (dan kita sebagai orang tua juga) nggak terpaku hanya pada hasil. Kalau menurut saya, terlalu terpakunya masyarakat kita pada hasil malah melahirkan upaya-upaya negatif untuk mencapai hasil yang “baik” di mata orang, terlepas caranya. Makanya ada bocoran soal UN, contekan ulangan, lalu stress berlebihan atas sebuah kegagalan. Kalau pada anak sulung saya, ya kelihatan pas dia ngambek nggak mau lanjut latihan sebuah lagu di piano karena “susah”, nggak mau nyoba gambar karena takut “jelek”, dan nggak mau nyoba bikin freestyle build dari Lego karena “susah”.

Buat saya, kalau ada yang mengatakan anak-anak “pintar”, maka saya akali dengan langsung menimpali secara halus plus senyum manis dengan komentar atas usahanya anak-anak. Misalnya, tante A, “Wah Little Bug udah pinter main pianonya…”, lalu saya menimpali dengan “Alhamdulillah, Little Bug selama ini rajin latihan dan nggak nyerah kalau belum bisa.” Atau “Little Bug dah pinter ya bacanya” “lalu saya bilang “alhamdulillah, Little Bug tiap hari berusaha baca buku-buku baru dan kalau ada kata-kata yang susah, dia akan berusaha membacanya”. Intinya, nggak pernah lupa untuk memuji usaha/prosesnya. Dan nggak lupa mendoktrin secara berulang tentang otak sebagai otot yang semakin kuat kalau dilatih dengan tantangan. Intinya, menekankan bahwa they are special just the way they are. Bahwa kami bangga karena dia berusaha mencoba meskipun menantang, dan gak menyerah meskipun gagal. Hal-hal seperti itu yang suka tertutup oleh pujian “anak pintar”. Terlebih karena kami homeschool, jadi kelihatan banget gregetnya kalau anak belum bisa maupun kelihatan ketika dia sengaja menghindari sesuatu yang tampak “susah” atau “baru” buat dia, belum lagi kalau ngambek ketika gagal atau hasilnya “nggak perfect”. Jadi ngeh juga, mungkin salah satu alasan kenapa anak-anak Jepang itu begitu rajin adalah karena sejak kecil, pujian setelah melakukan sesuatu umumnya adalah “yoku ganbatta ne” atau “kamu sudah banyak berusaha” dan “otsukaresamadeshita” (terima kasih atas kerja kerasnya), mau apapun hasilnya. 

Kita bisa berusaha dan perlahan, insyaaAllah akan lebih positif kepribadian anak-anak kita. Daripada mengeluhkan, mendingan berusaha dan berdoa, semoga Allah bisa membentuk jiwa anak-anak dengan kelembutan-Nya sehingga kelak menjadi anak-anak sholeh/sholehah yang berani menghadapi tantangan demi menghasilkan kebaikan. Semoga artikel ini bisa memberikan sudut pandang yang berbeda buat kita semua.

Referensi:
1.       Dweck, Carol. (2006). Mindset: The New Psychology of Success.
2.       Bronson, Po. (2007). How Not To Talk to Your Kids: The Inverse Power of Praise. http://nymag.com/news/features/27840/#

#selftalk

Minggu, 17 Mei 2015

Isyarat Zaman

Ketika orang-orang Cina zaman kuno dulu ingin hidup dalam kondisi aman, mereka membangun tembok Cina yang sangat besar.
Mereka berkeyakinan tidak akan ada orang yang sanggup menerobosnya karena tinggi sekali.
Akan tetapi,100 tahun pertama setelah tembok selesai dibangun, Cina terlibat tiga kali perperangan besar.
Pada setiap kali perperangan, angkatan darat musuh tidak butuh menghancurkan tembok atau memanjatnya untuk menerobos masuk.
Tapi cukup bagi mereka setiap kali perang menyogok penjaga pintu gerbang, kemudian mereka masuk melalui pintu.
Perhatian orang Cina di zaman itu disibukkan dengan pembangunan tembok, tapi mereka lupa membangun manusia.
Membangun manusia seharusnya dilakukan sebelum membangun apapun.
Dan itulah yang dibutuhkan oleh umat sekarang ini.

"Apabila anda ingin menghancurkan peradaban sebuah umat, ada tiga cara untuk melakukannya:

1. Hancurkan tatanan keluarga.
2. Hancurkan pendidikan.
3. Hancurkan keteladanan dari orang-orang yang jadi panutan dan ulama.

Untuk menghancurkan keluarga caranya dengan mengikis peranan Ibu.
Jadikan mereka malu menjalani peran sebagai Ibu rumah tangga.

Untuk menghancurkan pendidikan caranya; jangan jadikan para pendidik sebagai orang yang penting dalam masyarakat.
Kurangi penghargaan terhadap mereka, hingga para pelajar meremehkannya.

Untuk menghancurkan keteladanan, rusak akhlak para ulama dan orang-orang yang ditokohkan dalam masyarakat. Hingga tidak ada lagi orang pintar yang patut dipercayai. Tidak ada orang yang mendengarkan perkataannya, apalagi meneladani perbuatan dan sifatnya.

Apabila Ibu-Ibu rumah tangga yang punya kesadaran sudah hilang, para guru yang ikhlas lenyap, dan para ulama panutan sudah sirna, maka siapa lagi yang akan mendidik generasi dengan nilai-nilai luhur..?!?!"

Saat itulah kehancuran umat akan terjadi sekalipun tubuhnya dibungkus oleh pakaian mewah, bernaung di bangunan nan megah dan dibawa dengan kendaraan yang super wah.

Sudahkah ini terjadi...???

Suharni,  .M.Ed

Senin, 04 Mei 2015

Kecerdasan Yang Komplit


Banyak orang tua  yang memandang terhadap  anaknya dengan pandangan yang komplit. Cenderung memandang anaknya dengan pandangan yang parsial. diantaranya  dalam memandang  intentlektualitas sang anak
Sebagian orang tua memandang kecerdasan anak dari sisi interlektualitas. Sehingga yang diperhatikan hanya masalah nilai sekolahnya. Atau kehebatan nilai mata pelajaran yang diraihnya.
Tidak sedikit oraang tua yang bangga ketika anaknya mendapat rangking satu. Anak akan dimarahi ketika sang anak mendapatkan rangking bawah.
Padahal kehebatan anak-anak ketika ia memiliki kecerdasan yang komplit. Kecerdasan ruhani, kecerdasan fikri, kecerdasan emotional (athify), kecerdasan sosial (ijtimaiy). Yang seperti ini akan menjadi anak yang sholeh dan sholihah. Banyak orang tua yang cukup puas dengan melihat anak nya mendapatkan nilai tinggi dan mendapatkan juara di sekolah nya. Padahal itu hanya kecerdasan intelektual saja. Sedangkan kecerdasan yang lain merangkak. Apalah artinya cerdas intelektual tapi bodoh ruhani, bodoh emosi dan bodoh sosial?

Sabtu, 05 Juni 2010

UNIW Condemn Isreali attack

The Union of Non-Governmental Organizations of the Islamic (UNIW) condemn Israeli attack in Mavi Marmara ships. The Secretary General Necmi Sadikoglu told this press release to International community. The condemnation as bellow:

Israel’s Banditry should not remain unreturned!


ISTANBUL - Secretary General of the Union of Non-Governmental Organizations of the Islamic (UNIW) Necmi Sadikoglu issued a press statement upon the armed attacks of Israel to the flotilla, which is taking humanitarian aid to Gaza, and called on the Turkish government and international powers to protect the aid flotilla and to stop Israel.

“Israel’s attack on the humanitarian aid ships is inhumane. Israel has once again transgressed the boundaries.” Sadikoglu said and called on the Turkish government, Islamic Countries and international decision-making mechanisms for urgent intervention.

“Israel shed blood in a ship where Turkish flags were displayed. Israel carried out attack on 600 civilians from 50 countries. Israel has lost forever after its attack causing 15 deaths and more than 100 people to get wounded! Israel has made banditry in international waters! It should get its response in the strongest manner.” Sadikoglu said and made the following calls in his statement:


  1. After this event, denouncement decisions give no benefit. International powers should take actual precautions.

  2. Turkish government should take all the necessary actions against this attack on the Turkish citizens and the ship that is carrying the Turkish flag.

  3. International powers should leave their silence against the Israeli interception to the aid flotilla and should immediately intervene in the matter.

  4. The Organization of the Islamic Conference should urgently come together and prepare an urgent action plan.

  5. International public opinion should not stay unreactive against the interception and the prevention of the aid flotilla and should organize wide protests in every scale.

  6. The conscience of the humanity is having one of the most important exams of its history. We are calling on the entire Islamic World and the humanity to take action and say stop to Israel in the face of this situation.


--
--
The Union of NGOs of The Islamic World (The UNIW)

www.theunity.org
info@theunity.org

Link :Click Here

Kamis, 11 Maret 2010

PONPES MUHAMMADIYAH KHA.DAHLAN SIPIROK

PONDOK PESANTREN MUHAMMADIYAH KHA.DAHLAN SIPIROK TAPANULI SELATAN, adalah hasil Modernisasi Pesantren Pendidikan Ulama Bahagian Pendidikan Muhammadiyah Tapanuli yang di rekomendasi oleh Muktamar tahun 1961 dan Mulai didirikan pada tahun yang sama yaitu 1962, dengan Pimpinan Pertama atau Direktur I adalah H. Abdul Rahim Pane.
Selanjutnya tahun 1978, Oleh Kolonel Purnawirawan H.Amiruddin Siregar dimodernisir sehinga lokasinya dipindahkan dari Sipirok ke Lobu Tanjung Baringin Desa Kampung Setia Sipirok hingga sekarang ini, dan di beri nama PONDOK PESANTREN MODERN KHA.DAHLAN SIPIROK TAPANULI SELATAN.
Kemudian sekitar tahun 2004 kata modern diganti dengan kata Muhammadiyah, sehingga lengkapnya : PONDOK PESANTREN MUHAMMADIYAH KHA.DAHLAN SIPIROK TAPANULI SELATAN.
Saat ini, setelah management baru di bawah komando H.Jalaluddin Pane, S.H, anak dari H. Abdul Rahim Pane, PONDOK PESANTREN MUHAMMADIYAH KHA.DAHLAN SIPIROK TAPANULI SELATAN mencoba bangkit kembali dari keterpurukannya setelah sekian tahun tidak mampu mengembangkan sayap.
Untuk itu management baru pondok ini, yang dimulai sejak 1 Mei 2009, telah berusaha merobah wajah tampilan PONDOK PESANTREN MUHAMMADIYAH KHA.DAHLAN SIPIROK TAPANULI SELATAN, dengan mengadakan rehabilitasi fisik dan juga peningkatan kemampuan sumber daya manusianya dengan berbagai metode.
Anda berminat menyekolahkan anak anda ke Pesantren ini? Silahkan.
Sumber:http://ponpesmuhammadiyahkhadahlansipirok.blogspot.com/2009/12/inilah-pondok-ku-pondok-pesantren.html

Rabu, 03 Maret 2010

Beasiswa: PUTERA SAMPOERNA SCHOOL OF EDUCATION 2010

PUTERA SAMPOERNA SCHOOL OF EDUCATION membuka pendaftaran mahasiswa baru tahun akademik 2010/2011 melalui jalur BEASISWA dan STUDENT FINANCING.

Program Studi yang ditawarkan:

  1. Program Studi Pendidikan Matematika

  2. Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris


PERSYARATAN UMUM:

  1. Lulus SMA atau setara pada tahun 2008, 2009 atau lulus di tahun 2010.


    • a. Program Pendidikan Matematika: SMA jurusan IPA

    • b. Program Pendidikan Bahasa Inggris: SMA semua jurusan (Bagi peserta lulusan SMK dapat mendaftar untuk pilihan Program Pendidikan Bahasa Inggris)


  2. Bagi lulusan SMA Internasional harap menyertakan Ijazah yang disetarakan oleh Depdiknas

  3. Mengisi formulir pendaftaran dan syarat dokumen lainnya

  4. Memiliki kemampuan bahasa inggris yang baik

  5. Nilai raport rata-rata 7,00 selama masa SMA/SMK (kelas 10 – 12) dengan nilai matematika dan bahasa inggris minimum 7,00

  6. Surat referensi dari Kepala Sekolah & Wali Kelas/Guru BK

  7. Surat keterangan kesehatan

  8. Lulus proses seleksi


PERSYARATAN KHUSUS (Program Beasiswa):

  1. Warga Negara Indonesia

  2. Menjelaskan dan menunjukkan bukti kebutuhan tunjangan keuangan untuk melanjutkan pendidikan dengan melengkapi informasi yang tercantum dalam formulir pendaftaran mahasiswa baru SSE

  3. Memiliki prestasi akademik dan non-akademik yang tinggi semasa SMA yang dapat dibuktikan dengan nilai raport atau surat rekomendasi guru atau kepala sekolah

  4. Lulus proses seleksi beasiswa


PERSYARATAN DOKUMEN:

  1. Fotokopi raport kelas 10-12 (legalisir)

  2. Hasil UAN SMA (diwajibkan bagi yang sudah lulus saat mendaftar)

  3. Fotokopi KTP (2 lembar)

  4. Pas foto berwarna 4×6 (2 lembar)

  5. Surat Keterangan Tidak Mampu yang dikeluarkan oleh RT/RW atau kelurahan sesuai domisili(khusus peserta melalui jalur beasiswa)

  6. Dokumen-dokumen pendukung, seperti tagihan listrik, PAM, dll (khusus peserta melalui jalur beasiswa)

  7. Surat referensi dari kepala sekolah (format surat referensi disediakan oleh Sampoerna School of Education)

  8. Surat referensi dari Wali Kelas/Guru BK (format surat referensi disediakan oleh Sampoerna School of Education)

  9. Fotokopi KTP orang tua (1 lembar)

  10. Fotokopi Kartu Keluarga (1 lembar)

  11. Surat Keterangan Kesehatan (1 lembar)


PROSES SELEKSI:
Proses seleksi penerimaan terdiri dari 3 tahap sbb:

  • Tahap 1: Seleksi Dokumen

  • Tahap 2: Tes Potensi Akademik , Tes Kemahiran Bahasa Inggris & Tes Materi (sesuai program studi yang dipilih)

  • Tes 3: Interview & Diskusi Kelompok


JADWAL PENERIMAAN DOKUMEN & TEST:

  • 1. Batas akhir penerimaan dokumen

  • Dokumen kami terima paling lambat tanggal 09 April 2010. Dokumen dapat dikirimkan melalui pos atau langsung ke Sampoerna School of Education.

  • 2.Pengumuman Lolos Seleksi Dokumen:

  • Pengumuman aplikan yang lolos seleksi akan kami umumkan pada 14 April 2010. Pengumuman dapat dilihat melalui website di http://www.facebook .com/l/c78c1; www.sampoernaedu cation.ac.id

  • 3. Ujian Seleksi Masuk:

  • Ujian Seleksi Masuk akan diadakan di 4 kota besar sbb:

    • Jakarta: 23 – 25 April 2010

    • Medan: 26 – 28 April 2010

    • Yogyakarta: 23 – 25 April 2010

    • Makassar: 26 – 28 April 2010


  • 4. Pengumuman Lolos Ujian Seleksi Masuk:

  • Aplikan yang lolos Ujian Seleksi Masuk akan diumumkan tanggal 7 Mei 2010. Pengumuman dapat dilihat melalui website di http://www.facebook.com/l/c78c1; atau www.sampoernaeducation.ac.id

  • 5. Seleksi Interview & Diskusi Kelompok:

  • Interview & Diskusi Kelompok akan diadakan di 4 kota besar sbb:

    • Jakarta: 14 – 16 Mei 2010

    • Medan: 17 – 19 Mei 2010

    • Yogyakarta: 14 – 16 Mei 2010

    • Makassar: 17 – 19 Mei 2010


  • 6. Pengumuman:

  • Aplikan yang lolos akan kami umumkan tanggal 7 Juni 2010. Pengumuman dapat dilihat melalui website http://www.facebook.com/l/c78c1; atau www.sampoernaeducation.ac.id

FORMULIR APLIKASI DAPAT DIDOWNLOAD DI:
1. Prosedur Pendaftaran : Di Sini atau Clik Di Sini

2. Formulir Pendaftaran :Clik Di Sini; atau Clik Di Sini

3. Formulir Surat Referensi: Clik Di Sini Clik Di Sini

Informasi lebih lengkap mengenai Program ini dapat menghubungi:
021-577 2275 ext. 7283 / 7285
E-mail: sasti.purbasari@sampoernaeducation.ac.id

Jumat, 12 Februari 2010

Lowongan Kerja: Mengajar di SDIT

Mau mengajar di SDIT? Ini ada lowongan kerja nih: Lowongan Mengajar

SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU (SDIT) “Islamia” membuka lowongan guru baru untuk berkarya dan mengaktualisasikan kemampuan diri, dengan spesifikasi:

  • Guru Bahasa Inggris

  • Guru Bahasa Arab

  • Guru Seni Musik/SBK

  • Guru Tahfidz/Tahsin Tilawah Qur’an

  • Guru Matematika/Sains

  • Guru Olah Raga

  • Guru Kelas



Persyaratan:

  1. Pria/Wanita (Pria tidak merokok, berbusana muslimah untuk wanita)

  2. Usia maksimal 35 Thn

  3. Berpengalaman mengajar minimal 1 Thn (Surat Keterangan Mengajar)

  4. IPK 3,00

  5. Memiliki Akta IV/Kependidikan (diutamakan)

  6. Mencintai dunia anak

  7. Bersedia Bekerja Full Time

  8. Mampu Berbahasa Inggris

  9. Mampu membaca Al Qur’an dengan baik



Surat lamaran ditujukan :

SDIT Islamia
Jln. Pendidikan 03/06, Mangun Jaya, Tambun Selatan 17510, Bekasi, Jawa Barat
Telp. (021) 88325746 , HP. 99136515 (Dharmaji Santoso,S.Pd. )
Lamaran diterima paling lambat: 1 April 2010 Tanggal Tes 3 April 2010

Ada yang berminat?? Buruan deh, biar gak ketinggalan

Rabu, 10 Februari 2010

Kesaksian Gontor

Mungkin ada yang belum mengenal Pondok Modern Gontor, ini ada sedikit kesksian tentang Gontor moga bisa menjadi bahan renungan dan informasi untuk kita semua:


SEBUAH KESAKSIAN TENTANG GONTOR

Dimuat di Harian Malang Post, 06 Desember 2009

Judul Buku : Wisdom of Gontor
Penulis : Tasirun Sulaiman
Penerbit : PT Mizan Pustaka
Cetakan I : September 2009
Tebal : 230 halaman
Peresensi : Muhammad Rajab*

Siapa yang tidak mengenal Gontor. Mayoritas penduduk Indonesia,
khususnya yang muslim sudah mengenal nama tersebut. Sebuah pondok
pesantren yang pusatnya terletak di Ponorogo Jawa Timur. Walaupun
pondok modern yang didirikan 1926 ini tempatnya di daerah terpencil dan
diapit oleh dua pegununngan di kawasan selatan kota Ponorogo. Tapi
kesunyian dan keterpencilan itu tiba-tiba menggema dan menggemuruh
khususnya di tanah air Indonesia.
Seiring berjalannya waktu,
kemudian nama Gontor menjadi semakin kian riuh dengan munculnya
tokoh-tokoh, seperti Dr. Nurcholis Madjid, Kafrawi ridwan MA.,
Penasehat Golkar Pusat, Dr. Hafidz Basuki, esin penggerak Depag, Emha
Ainun Nadjib, yang melesat dengan lautan jilbab hingga Kiai Kanjeng,
Habib Chirzin, budayawan kondang asal kota Budeg dan KH. Hamam Ja’far
dengan pesantren Pabelan yang melejit dengan Dr. Komaruddin Hidayatnya.

Setelah itu muncul meteor-meteor baru Gontor menghambur dengan
hebatnya. Langit-langit Indonesia menjadi taman meteor yang
menyenangkan tapi juga meletupkan suatu kekaguman yang tersimpan di
balik dada. Dr. Hidayat Nur Wahid, Ketua MPR RI, Din Syamsuddin, Ketua
PP Muhammadiyah, KH. Hasyim Muzadi, Ketua PP NU, Maftuh Basyuni,
Menteri Agama, dan banyak lagi yang sekelas doktor yang menjadi
penggerak dan pendobrak perjuanngan bangsa Indonesia.
Gontor dengan
rupa dan pernak-perniknya telah memberikan pesona dan kekaguman
tersendiri. Apalagi ketika peristiwa 11 September 2001 yang mengguncang
dunia dan membuat Gorge Bush yang pernah singgah di hotel Salak, Bogor
menjadi berang. Perang melawan teorisme pun dideklarasikan lalu
orang-orang pun kaget sekali ketika Kiai Abu Bakar Ba’asyir
disebut-sebut sebagai amir dari Jama’ah Islamiyah dan dituduh terlibat
di balik bom-bom yang meledak di Indonesia. Dan Kiai Abu Bakar Ba’asyir
adalah alumni Gontor. Fakta membuktikan bahwa Hidayat Nur Wahid dan
beberapa alumni Gontor lain yang senior tidak takut-takut menyambangi
Ba’asyir yang saat itu menjadi tahanan kepolisian. (hal. 21)
Namun
apapun rupa bentuk alumni Gontor, tetap masih ditemukan sebuah warna
yang masih bisa ditarik benang merahnya. Benang merah tersebut
bersumber dari wisdom atau kearifan yang diajarkan Gontor, baik dari
sikap dan keteladanan KH. Ahmad Sahal maupun KH. Imam Zarkasyi atau
ajaran yang menjadi visi Gontor yang menyerupai semangat kebersamaan
walaupun berbeda golongan, yang kemudian tercantum dalam motto Gontor
“berdiri di atas dan untuk semua golongan”.
Buku Wisdom of Gontor
yang ditulis oleh alumnus Gontor sendiri, Tasirun Sulaiman ini hadir
untuk menjadi kesaksian yang bisa memberikan pemandangan dan lanskap
serta nuansa baru bagi mereka yang ingin melihat Gontor. Atau bagi yang
pernah belajar di sana, bisa saja buku ini membangkitkan nostalgia
untuk mengenang dan mengingat kembali masa lalunya ketika berada di
Gontor. Yang kemudian bisa dijadikan motivator kembali untuk
mendapatkan sebuah kearifan sebagaimana yang telah diajarkan Gontor.

Buku ini telah banyak mendapatkan komentar baik dari alumni senior
Gontor sendiri ataupun dari tokoh-tokoh yang lain. Pasalnya, memang
benar Gontor telah mengajarkan nilai-nilai religiusitas dan humanitas
di tengah-tengah perbedaan umat. Misalnya pengakuan Hidayat Nur Wahid,
“moto dan Panca-Jiwa adalah ruh Pondok Modern Gontor. Trimurti, pendiri
Gontor alm. KH. Ahmad Sahal, alm. KH. Zaenuddin Fananie, dan alm. KH.
Imam Zarkasyi telah mencontohkan dalam amalan. Saya secara pribadi
sangat terkesan dengan moto dan Panca-Jiwa. Dan kita dapat membacanya
di buku Wisdom of Gontor ini”.
Hal menarik yang terdapat dalam buku
ini adalah penjelasan tentang kearifan-kearifan yang ada di Gontor.
Baik dalam perkataan-perkataan yang dilukis di atas dinding kelas
ataupun dari berbagai aktivitas yang dilakukan oleh para santri dan
astatidz dan para pembimbing yang ada di Gontor. Boleh dikatakan buku
ini adalah sebuah gudang penyimpanan yang berisi kearifan-kearifan
(wisdom) yang ada di pondok tersebut.
Ada sebuah cerita menarik.
Suatu kali, siswa akhir dari suatu angkatan di Gontor , yang memiliki
keahlian membuat letter atau kaligrafi, menghiasi gedung aula pertemuan
dengan tulisan yang mengejutkan “berbuat baik jangan sekali, berbuat
buruk baik sekali” Tulisan yang menghiasi ruang pertemuan itu tentu
saja mematik dan mengejutkan setiap orang yang melihatnya. Tidak saja
dari kalangan siswa, tapi guru dan pemimpin Gontor saat itu. Berbuat
buruk baik sekali? Tentu saja pernyataan itu sepintas dan selayang
pandang membuat orang terprovokasi dan memberontak. Tapi, jika
direnungkan, tulisan kreatif tersebut memberikan makna yang dalam. Dia
ingin berpesan: “Kalau memang pernah berbuat buruk, maka cukuplah
sekali saja!” tapi apabila kalimat yang kedua yang dipilih tentulah
kurang gagah. (hal. 37)
Apa maksud di balik pernyataan di atas?.
Pernyataan di atas sangat sederhana namun mengandung makna yang
mendalam. Artinya, bahwa untuk berbuat baik jangan hanya sekali saja.
Pasalnya, untuk menjadi orang baik tidak cukup dengan kebaikan yang
dikerjakan hanya sekali saja, akan tetapi butuh kontinuitas. Sedangkan
berbuat buruk cukuplah hanya sekali. Jangan sampai diulang-ulang
berkali-kali. Tidak dapat dipungkiri memang, karena manusia tak ada
yang pernah luput dari salah dan dosa. Adapun pesan utama dari
pernyataan di atas adalah, “jadilah orang baik”.
Pada intinya,
buku ini merupakan sebuah kesaksian tentang pendidikan di Pondok
Pesantren Modern Gontor. Berbagai macam kearifan diangkat dalam buku
ini, mulai dari kisah-kisah lucu hingga nasehat-nasehat berharga dari
para pendiri dan asatidz di Gontor. Menariknya lagi, buku ini ditulis
dan dikemas dengan bahasa yang sangat sederhana sehingga akan
memudahkan pembaca untuk mencerna isinya. Agar lebih tahu secara
mendalam tentang kearifan apa saja yang ada di Gontor, pembaca bisa
lebih dalam lagi menelusuri isi buku ini.

*Peresensi adalah
Peneliti di Forum Studi Islam (Forsifa) Unmuh Malang

Diposkan oleh Al-Islam.net

di 18:45

Jumat, 05 Februari 2010

Definisi Ilmu

Ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman manusia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia. Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti. Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dari keterbatasannya.
Kata ilmu merupakan kata serapan dari bahasa Arab "ilm" yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial, dan lain sebagainya.

Syarat-syarat ilmu


Berbeda dengan pengetahuan, ilmu merupakan pengetahuan khusus dimana seseorang mengetahui apa penyebab sesuatu dan mengapa. Ada persyaratan ilmiah sesuatu dapat disebut sebagai ilmu. Sifat ilmiah sebagai persyaratan ilmu banyak terpengaruh paradigma ilmu-ilmu alam yang telah ada lebih dahulu.

  1. Objektif. Ilmu harus memiliki objek kajian yang terdiri dari satu golongan masalah yang sama sifat hakikatnya, tampak dari luar maupun bentuknya dari dalam. Objeknya dapat bersifat ada, atau mungkin ada karena masih harus diuji keberadaannya. Dalam mengkaji objek, yang dicari adalah kebenaran, yakni persesuaian antara tahu dengan objek, dan karenanya disebut kebenaran objektif; bukan subjektif berdasarkan subjek peneliti atau subjek penunjang penelitian.

  2. Metodis adalah upaya-upaya yang dilakukan untuk meminimalisasi kemungkinan terjadinya penyimpangan dalam mencari kebenaran. Konsekuensi dari upaya ini adalah harus terdapat cara tertentu untuk menjamin kepastian kebenaran. Metodis berasal dari kata Yunani “Metodos” yang berarti: cara, jalan. Secara umum metodis berarti metode tertentu yang digunakan dan umumnya merujuk pada metode ilmiah.

  3. Sistematis. Dalam perjalanannya mencoba mengetahui dan menjelaskan suatu objek, ilmu harus terurai dan terumuskan dalam hubungan yang teratur dan logis sehingga membentuk suatu sistem yang berarti secara utuh, menyeluruh, terpadu , mampu menjelaskan rangkaian sebab akibat menyangkut objeknya. Pengetahuan yang tersusun secara sistematis dalam rangkaian sebab akibat merupakan syarat ilmu yang ketiga.

  4. Universal. Kebenaran yang hendak dicapai adalah kebenaran universal yang bersifat umum (tidak bersifat tertentu). Contoh: semua segitiga bersudut 180ยบ. Karenanya universal merupakan syarat ilmu yang keempat. Belakangan ilmu-ilmu sosial menyadari kadar ke-umum-an (universal) yang dikandungnya berbeda dengan ilmu-ilmu alam mengingat objeknya adalah tindakan manusia. Karena itu untuk mencapai tingkat universalitas dalam ilmu-ilmu sosial, harus tersedia konteks dan tertentu pula.

Rabu, 03 Februari 2010

Peluang Dosen

Universitas Islam Indonesia Yogyakarata, membuka kesempatan bagi rekan-rekan yang berminat meniti karier di bidang akademik. Kali ini Universitas Islam Indonesia membuka lowongan dosen tetap untuk 15 program studi.
Akuntansi, Manajemen, Ilmu Hukum, Arsitektur, Teknik Lingkungan,Teknik Industri, Teknik Kimia, Teknik Informatika, Teknik Elektro,Teknik Mesin, Ilmu Komunikasi, Pendidikan Dokter, Ekonomi Islam, Hukum Islam dan Pendidikan Agama Islam.

Diutamakan untuk lulusan S2/S3, namun SANGAT TERBUKA peluang untuk lulusan S1.
Pendaftaran dibuka 1 - 25 Februari 2010. Pengumuman lolos administratid tanggal 4 Maret 2010. Ujian seleksi dimulai 8 Maret 2010. Masa kerja dimulai 1 April 2010.
Info lebih lanjut, serta formulir pendaftaran dan kelengkapan lainnya dapat dilihat di website:

UII


Atau download berkas-berkasnya Di Bawah Ini:

Persyaratan


Formulir Pendaftaran


Curiculum Vitae


Surat Pernyataan


Rekomendasi Dosen Senior