Selasa, 20 Juli 2010

BELAJAR DARI MUHAMMADIYAH


”Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. Q.S. al-Nahl/16: 125.
Tanggal 03-08 Juli 2010 lalu menjadi momen penting dalam sejarah Perserikatan Muhammadiyah. Organisasi Masa yang menapaki usianya satu abad itu menggelar muktamar ke 46, diikuti oleh Muktamar Aisyiah ke 46, dan Muktamar Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) ke 17. Muktamar Satu Abad Muhammadiyah kali ini menjadi sangat penting, karena organisasi tersebut akan memasuki abad kedua dalam kancah perjuangannya, abad globalisasi dengan segala tantangan dan problematikanya. Muktamar yang mengambil tema: Gerak Melintasi Zaman Dakwah dan Tajdid menuju Peradaban Utama” itu menjadi momentum penting dalam upaya Muhammadiyah membangun jatidiri bangsa.
Muktamar tersebut telah menghasilkan keputusan-keputusan penting, antara lain: revitalisasi pendidikan, revitalisasi kader dan organisasi, dan menetapkan program-program yang lebih terfokus pada: 1) pengembangan gerakan yang maju, profesional dan modern, 2) pengembangan sistem gerakan, sumberdaya manusia, dan amal usaha yang unggul dan mandiri, 3) peningkatan peran strategis dalam kehidupan umat, bangsa, dan dinamika global. Muktamar juga menghasilkan kepemimpinan baru untuk masa lima tahun ke depan yang dikomandani oleh Prof. Dr. Din Syamsuddin, M.A., selaku Ketua Umum, dan Dr. Agung Danarto, sebagai Sekretaris Umum.
Dalam muktamar itu Muhammadiyah juga memberikan pandangannya tentang: 1). Isu-isu strategis keumatan yang menyangkut masalah: kemiskinan kepemimpinan, komoditasi agama, konservatifisme dan formalisme agama, kemajemukan agama, dan keadilan gender. 2). Isu-isu strategis kebangsaan yang menyangkut masalah: revitalisasi karakter bangsa, pemberantasan korupsi, reformasi lembaga penegakan hukum, perlindungan dan kesejahteraan pekerja, sistem suksesi kepemimpinan nasional, reformasi birokrasi, reformasi agraria dan kebijakan pertanahan. 3). Isu-isu strategis kemanusiaan universal menyangkut masalah: krisis kemanusiaan modern, krisis pangan dan energi, krisis ekonomi global, krisis lingkungan dan perubahan iklim, Islamofobia, migrasi global, dan dialog antar agama dan peradaban.
Muhammadiyah dalam sejarahnya selama satu abad, telah berkarya untuk umat, bangsa, dan dunia. Dalam satu abad Muhammadiyah telah menjadi pelopor bagi gerakan dakwah dan tajdid, gerakan untuk membangun tatanan dunia berdasarkan nilai-nilai peradaban, termasuk nilai-nilai Islam yang luhur. Maka wajar bila Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dalam pidato sambutan Pembukaan Muktamar mengakui prestasi tersebut: ” Dalam tempo satu abad Muhammadiyah telah menjadi organisasi kemasyarakatan yang bergerak di barisan terdepan dalam meningkatkan pendidikan, kesehatan, dan amal sosial. Ratusan sekolah, rumah sakit, panti asuhan dan lembaga-lembaga ke-Islam-an telah didirikan oleh Muhammadiyah di seluruh tanah air. Tidak berhenti sampai di situ, Muhammadiyah juga terlibat aktif dalam dialog lintas peradaban, dialog antara Timur, Barat dan Islam, yang ditujukan untuk membangun harmoni antar peradaban yang mengedepankan prinsip saling menghormati dan saling menghargai pluralisme dan perbedaan. Saat ini Muhammadiyah bukan saja telah tampil sebagai salah satu organisasi keagamaan Islam terbesar di tanah air, tetapi juga merupakan salah satu organisasi Islam terbesar di dunia. Gerakan tajdid Muhammadyah telah membawa pencerahan dan pembaharuan pemikiran umat Islam. Tidaklah berkelebihan kiranya, jika kita katakan bahwa kiprah Muhammadiyah di awal kelahirannya telah berhasil memperbaharui suasana intelektual kaum muslimin di tanah air”.
Karya-karya Muhammadiyah patut menjadi kebanggaan umat dan bangsa Indonesia. Kita patut berterimakasih kepadanya, sekaligus belajar dari sukses-sukses yang telah dicapai. Presiden SBY mengungkapkan rasa terimakasihnya dengan mengatakan: ”Kepada para sesepuh, para alim ulama, pimpinan persarikatan, serta keluarga besar Muhammadiyah dan organisasi-organisasi otonomnya, saya ucapkan terima kasih dan penghargaan yang tulus atas peran aktifnya dalam pencerahan, pencerdasan dan pemberdayaan umat di tanah air. Semoga aktivitas Saudara sekalian dicatat oleh Allah SWT sebagai amal yang sholeh”. Sebagaimana Wakil Presiden, Budiono, juga mengungkapkan rasa terimakasih itu saat menutup Muktamar: “Saya sekarang dapat berdiri disini, di depan para hadirin sekalian, antara lain karena Muhammadiyah. Terimakasih, Muhammadiyah!”. Seperti diketahui bahwa Wapres Budiono adalah lulusan pendidikan SD Muhammadiyah di Kota Blitar. Muhammadiyah telah memberikan kontribusinya kepada anak bangsa dalam gerakan dakwah dan tajdid menuju cita-cita bersama, “Mari kita bersama-sama mencapai tujuan bersama yaitu kesejahteraan rakyat Indonesia,” tegas Wapres. Sebuah cita-cita bersama menuju khair ummah (umat terbaik, Q.S. Ali Imrân/3: 110), dan mewujudkan baldatun thayyibah (negeri yang baik, Q.S. Saba’/34: 15).
Gerakan Dakwah
Sebagaimana disebutkan dalam Anggaran Dasar, Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang mengemban misi da’wah dan tajdid, berasas Islam, bersumber pada al-Quran dan as-Sunnah, dan bertujuan mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Muhammadiyah sesuai jatidirinya senantiasa istiqamah untuk menunjukkan komitmen yang tinggi dalam memajukan kehidupan umat, bangsa, dan dunia kemanusiaan sebagai wujud ikhtiar menyebarluaskan Islam yang bercorak rahmatan lil-‘alamin. Misi kerisalahan dan kerahmatan yang diemban Muhammadiyah tersebut secara nyata diwujudkan melalui berbagai kiprahnya dalam pengembangan amal usaha, program, dan kegiatan yang sebesar-besarnya membawa pada kemaslahatan hidup di dunia dan akhirat bagi seluruh umat manusia di muka bumi ini.
Daftar panjang kisah sukses Muhammadiyah dalam mengembangkan tradisi dakwah sosial di negeri ini dapat disusun secara panjang lebar. Dari mulai merintis penggunaan media modern dalam dakwah berupa buku, majalah, sebaran (leaflet, booklet). Percetakan Persatuan berikut tokoh buku Persatuan dan Toko Buku Siaran adalah contoh lain percetakan dan tokoh buku tertua kaum pribumi, seperti majalah Suara Muhammadiyah.

Seperti juga kepeloporan Muhammadiyah pada era awal dalam pembangunan tempat ibadah di tempat-tempat umum; stasiun, terminal, dan juga mushalla di bandara atau rumah makan. Managemen perjalanan haji, kepanitian kegiatan keagamaan, shalat Ied di lapangan, panti asuhan. Demikian pula pembinaan, nasehat perkawinan dan perjodohan yang pernah dikenal dengan BP-4. Himbauan untuk pemenuhan kewajiban ibadah seperti shalat melalui leaflet ”sopo durung solat (siapa belum salat)?” dan berbagai hal berkaitan dengan ajaran merupakan buah karya Muhammadiyah.

Tentu saja karya terbesar Muhammadiyah dalam kurun satu abad adalah mendorong umat Islam meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi di sekolah modern yang waktu itu dianggap sekolah kafir. Dengan pendidikan modern itu, demikian kesimpulan penelitian Riaz Hassan sekitar tahun 70-80-an, anak didik menjadi semakin rasional dan puritan sehingga semakin hari semakin meninggalkan upacara-upacara mistik, meninggalkan hal-hal yang bersifat tayayyul, bid’ah, churafat (TBC). Sebuah strategi dakwah yang bervisi jauh ke depan.

Muhammadiyah dalam usianya jelang satu abad telah banyak mendirikan taman kana-kanak, sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, balai pengobatan, rumah yatim piatu, usaha ekonomi, penerbitan, dan amal usaha lainnya. Muhammadiyah juga membangun masjid, mushalla, melakukan langkah-langkah da’wah dalam berbagai bentuk kegiatan pembinaan umat yang meluas di seluruh pelosok Tanah Air. Muhammadiyah bahkan tak pernah berhenti melakukan peran-peran kebangsaan dan peran-peran kemanusiaannya dalam dinamika nasional dan global.
Sukses dakwah Muhammadiyah, tidak lepas dari misi da’wahnya sejak dilahirkan yang dijiwai oleh pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran 104: ”Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, mereka itulah orang-orang yang beruntung”. Kewajiban dan panggilan da’wah yang luhur itu menjadi komitmen utama Muhammadiyah sebagai ikhtiar untuk menjadi kekuatan Khaira Ummah sekaligus dalam membangun masyarakat Islam yang ideal seperti itu sebagaimana pesan Allah dalam Al-Quran Surat Ali-Imran ayat 110: ”Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.”.
Dengan merujuk pada Firman Allah dalam Al-Quran Surat Ali Imran 104 dan 110, Muhammadiyah menyebarluaskan ajaran Islam yang komprehensif dan multiaspek itu melalui da’wah untuk mengajak pada kebaikan (Islam), al-amr bi al-ma’ruf wa al-nahy ‘an al-munkar (mengajak kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar), sehingga umat manusia memperoleh keberuntungan lahir dan batin dalam kehidupan ini. Da’wah yang demikian mengandung makna bahwa Islam sebagai ajaran selalu bersifat tranformasional; yakni dakwah yang membawa perubahan yang bersifat kemajuan, kebaikan, kebenaran, keadilan, dan nilai-nilai keutamaan lainnya untuk kemaslahatan serta keselamatan hidup umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku, golongan, agama, dan lain-lain.
Buya Hamka menjelaskan tentang rahasia sukses dakwah itu karena adanya keteladanan, kelenturan, keluwesan dan gerakan dakwah yang hidup. Bila dakwah hidup, Islam dan kaum muslimin akan terus hidup, maju dan berkembang. Tapi bila dakwah itu mati, Islam dan kaum muslimin akan terpuruk, mundur, statis, akhirnya mati. Dakwah itu harus menggunakan berbagai metode yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat saat itu. Bila dakwah tidak memiliki daya gerak, daya saing, daya merubah sikap dan perilaku, dan daya memperbaiki, maka dakwah itu lemah tak berdaya menuju kematiannya.

Agar dakwah itu terus hidup, diperlukan para da’i (tenaga dakwah) yang terus hidup, tidak pernah berhenti berdakwah. Semangat juang, jihad tidak boleh kendor karena berbagai alasan. Seringkali kita membanggakan jumlah bilangan bahwa mayoritas penduduk Indonesia, 90 %, memeluk Islam. Tapi apalah arti jumlah bilangan yang banyak kalau kualitasnya rendah. Jumlah bilangan yang banyak itu akan mati dan tidak akan mampu menjadi khair ummah (umat terbaik), bila tidak ada dakwah yang hidup, tidak ada amar ma’rûf nahi mungkar, dan tidak ada lagi jihâd fî sabîlillâh, sebagaimana yang disinyalir dalam Q.S. Ali Imran/3: 110. Kuantitas umat harus diikuti dengan kualitas individu-individunya.

Buya Hamka menceriterakan tentang dakwah yang luwes itu seperti yang dilakukan oleh Gerakan Muhammadiyah / Aisyiyah antara tahun 1927 – 1930. Pada saat itu, kaum perempuan Indonesia dari berbagai suku, memakai pakaian yang berbeda-beda, yang terkadang bertentangan dengan ajaran Islam karena tidak menutup aurat, sangat tipis (transparan) sehingga menampakkan bagian-bagian tubuh terlarang mereka. Gerakan Aisyiyah tidak mencela mereka sebagai haram, berdosa, masuk neraka dan lain-lain. Aisyiyah membuat mode pakaian baru yang islami, cantik, manis, dan menarik. Para anggotanya yang tersebar di seluruh Indonesia menggunakan mode pakaian itu. Akhirnya dakwah itu berhasil. Mode pakaian itu ditiru oleh banyak perempuan Indonesia, termasuk pemuka wanita Islam seperti Rasuna Said dan Rahmah El Yunusiyah. (Hamka, 1984: 32-33)

Buya Hamka sendiri dikenal sebagai sosok luwes dan memahami benar lingkungan dan budaya setempat. Banyak di antara perempuan terpelajar yang masih terpengaruh mode Barat ingin belajar Islam kepada Buya Hamka di Masjid Agung Al-Azhar. Mereka datang dengan pakaian minim dan make up yang berlebihan. Buya tidak berkeberatan mengajar mereka yang berpakaian belum sesuai dengan akhlak Islam itu. Janggal memang seorang ulama besar mengajar perempuan dengan berpakaian terbuka, setengah tutup aurat. Tapi beliau lakukan dengan memberikan pemahaman yang komprehensif tentang Islam. Lama kelamaan, mereka datang ke pengajian itu dengan menutup aurat, berbusana muslimah dengan indah dan rapi. Bahkan pada awal-awal berdiri pendidikan formal Al-Azhar, tidak diwajibkan bagi siswa siswinya untuk berbusana muslimah. Bertahap namun pasti, dakwah itu membawa hasil. (Rusydi, 1982: 156-157).

Islam harus disampaikan dengan bahasa yang dirumuskan secara aktual dan difahami umat, bukan konsep normatif yang rigid (kaku) dan mengawang di langit. Islam harus diterjemahkan ke dalam kehidupan masyarakat yang hidup dinamis. Para da’i adalah orang-orang yang memiliki perspektif yang luas dan jauh ke depan. Islam harus didekati secara manusiawi dan dipahami dari berbagai segi (multi dimensional).

Gerakan Tajdid
Tidak dapat dipungkiri bahwa K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, adalah pelopor gerakan tajdid (pembaruan) di Indonesia. Tajdid yang dilakukan beliau bersifat pemurnian (purifikasi) dan perubahan ke arah kemajuan (dinamisasi), yang semuanya berpijak pada pemahaman tentang Islam yang kokoh dan luas. Dengan pandangan Islam yang demikian, K.H. Ahmad Dahlan tidak hanya berhasil melakukan pembinaan yang kokoh dalam akidah, ibadah, dan akhlak kaum muslimin, tetapi sekaligus melakukan pembaruan dalam amaliah mu’amalat dunyawiyah sehingga Islam menjadi agama yang menyebarkan kemajuan.
Semangat tajdid Muhammadiyah tersebut didorong antara lain oleh Sabda Nabi Muhammad s.a.w., yang artinya: ”Sesungguhnya Allah mengutus kepada umat manusia pada setiap kurun seratus tahun orang yang memperbarui ajaran agamanya” (Hadits diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Abi Hurairah). Karena itu melalui Muhammadiyah telah diletakkan suatu pandangan keagamaan yang tetap kokoh dalam bangunan keimanan yang berlandaskan pada Al-Quran dan As-Sunnah sekaligus mengemban tajdid yang mampu membebaskan manusia dari keterbelakangan menuju kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban.
Dalam pandangan Muhammadiyah, bahwa masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang menjadi tujuan gerakan merupakan wujud aktualisasi ajaran Islam dalam struktur kehidupan kolektif manusia yang memiliki corak ummatan wasatha (masyarakat tengah) yang berkemajuan baik dalam wujud sistem nilai sosial-budaya, sistem sosial, dan lingkungan fisik yang dibangunnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki keseimbangan antara kehidupan lahiriah dan batiniah, rasionalitas dan spiritualitas, aqidah dan muamalat, individual dan sosial, duniawi dan ukhrawi, sekaligus menampilkan corak masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesejahteraan, kerjasama, kerjakeras, kedisiplinan, dan keunggulan dalam segala lapangan kehidupan.
Dalam menghadapi dinamika kehidupan, masyarakat Islam semacam itu selalu bersedia bekerjasama dan berlomba-lomba dalam serba kebaikan di tengah persaingan pasar-bebas di segala lapangan kehidupan dalam semangat ”berjuang menghadapi tantangan” (al-jihâd li al-muwâjjahât) lebih dari sekadar ”berjuang melawan musuh” (al-jihâd li al-mu’âradhah). Masyarakat Islam yang dicita-citakan Muhammadiyah memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat madani, yaitu masyarakat kewargaan (civil-society) yang memiliki keyakinan yang dijiwai nilai-nilai Ilahiah, demokratis, berkeadilan, otonom, berkemajuan, dan berakhlak-mulia (al-akhlaq al-karimah).
Masyarakat Islam yang semacam itu berperan sebagai syuhadâ’ ‘ala al-nâs di tengah berbagai pergumulan hidup masyarakat dunia. Karena itu, masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang bercorak ”madaniyah” tersebut senantiasa menjadi masyarakat yang serba unggul atau utama (khaira ummah) dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Keunggulan kualitas tersebut ditunjukkan oleh kemampuan penguasaan atas nilai-nilai dasar dan kemajuan dalam kebudayaan dan peradaban umat manusia, yaitu nilai-nilai ruhani (spiritualitas), nilai-nilai pengetahuan (ilmu pengetahuan dan teknologi), nilai-nilai materi (ekonomi), nilai-nilai kekuasaan (politik), nilai-nilai keindahan (kesenian), nilai-nilai normatif berperilaku (hukum), dan nilai-nilai kemasyarakatan (budaya) yang lebih berkualitas.
Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bahkan senantiasa memiliki kepedulian tinggi terhadap kelangsungan ekologis (lingkungan hidup) dan kualitas martabat hidup manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam relasi-relasi yang menjunjungtinggi kemaslahatan, keadilan, dan serba kebajikan hidup. Masyarakat Islam yang demikian juga senantiasa menjauhkan diri dari perilaku yang membawa pada kerusakan (fasâd fi al-ardh), kedhaliman, dan hal-hal lain yang bersifat menghancurkan kehidupan.
Gerakan K.H. Ahmad Dahlan sebagai pelopor gerakan tajdid (pembaruan) dapat dilihat dari awal sejarah gerakan Muhammadiyah. Dalam gerakan tajdidnya, beliau tetap bertahan dengan kelenturan dan posisi tengah sebagai ciri khas gerakan Muhammadiyah.
K.H. Ahmad Dahlan hidup di lingkungan kauman di Yogyakarta. Beliau membuka diri bagi pengaruh pendidikan Barat, belajar huruf latin, dan khazanah ilmu modern dari rekan-rekannya di Budi Utomo. Hasilnya, melalui organisasi yang didirikannya, Muhammadiyah, diterbitkan publikasi rutin melalui mesin cetak modern, dan didirikan sekolah persilangan antara sekolah model kolonial dan pesantren. Sebuah loncatan pembaruan luar biasa saat itu.
K.H. Ahmad Dahlan termasuk mereka yang pertama-tama memperkenalkan bangku dan papan tulis (sebuah tanda modernitas seperti komputer sekarang). Komunitas epistemik yang dibentuk melalui pengenalan rasionalisme, kurikulum, dan perangkat modern Barat, merupakan gerak loncatan historis yang jauh ke depan.
Oleh karena itu, walau terlihat sebagai seorang puritan yang menghebohkan Masjid Kesultanan, namun jauh di dalam diri Dahlan, dalam analisis Yudi Latief (kepala PSIK-Indonesia), bersemayam kelenturan dan kemoderatan. Jauh dari menolak Barat, juga jauh dari memeluknya; dekat dengan tradisionalisme tapi tidak menjadi tradisionalis. Ahmad Dahlan adalah tokoh muslim liminal, seorang yang berdiri di jalan tengah, mengawinkan tradisi dan inovasi. Keseimbangan adalah kunci yang menjaga kelenturan dan kemoderatan Dahlan. Ber-tajdid menjadi upaya menjaga keseimbangan itu. Tanpa keseimbangan, semua akan runtuh.
Buya Hamka menjelaskan tentang tajdid (pembaruan, modernisasi) sebagai hal yang mutlak diperlukan di segala bidang. Modernisasi diperlukan untuk membangun jiwa bebas merdeka setelah sekian tahun terjajah. Modernisasi dari suasana feodal kepada alam demokrasi. Modernisasi dari sebuah negeri agraris tradisional menjadi Negara maju dan industrialis. Modernisasi dari suasana kebodohan kepada ilmu pengetahuan. Modernisasi ilmu pengetahuan untuk mengejar ketertinggalan dari negara-negara maju. (Hamka, 2002, hal. 266-267).

Karena umat Islam tidak mau berkompromi dengan kolonialisme dan kristenisasi, maka pihak penjajah memeras otak untuk dapat menjinakkan umat Islam yang dianggap "liar" itu. Caranya dengan menyusun sistem pendidikan baru. Snouck Hourgronye pernah memberikan nasehat kepada pemerintah Hindia Belanda, supaya semangat Islam itu lemah dan kendor, agar diberikan pendidikan yang mengemukakan kemegahan nenek moyang sebelum Islam datang, hendaknya mengobarkan semangat nasionalisme, dan membangun orientasi berpikir seperti barat. Sejak di sekolah dasar, hendaknya ditanamkan dasar netral agama. Setelah masuk jenjang perguruan tinggi, dituntun mempelajari agama Islam secara "ilmiah" yang dipandu oleh sarjana barat (para orentalis) yang beragama Kristen dan Yahudi, yang memandang Islam dari luar. Dengan model pendidikan itu, mereka merasa sebagai kalangan terpelajar Islam. "Bikinlah mereka jadi Belanda di Timur, sebagaimana kita jadi Belanda di Barat", kata Hourgronye. Ditanamkan kepada mereka bahwa Islam itu kotor, santrinya kotor dan kudisan, kyainya tukang kawin bininya banyak, kolam masjidnya kotor dan sebagainya. Pahlawan yang dibanggakan bukan raden Patah atau Sunan Gunung Jati, melainkan Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Akhirnya mereka memandang Islam dengan sinis dan penuh cemoohan. (Hamka, 2002: 306).

Sebagai akibat dari sistem pendidikan barat itu, maka di kalangan orang Islam yang teguh memegang Islam menjadi antipati dengan segala yang berbau Belanda (Barat). Mereka yang tinggi ghirah agamanya tidak sudi menyekolahkan anaknya ke sekolah Belanda. Mereka lebih suka mendirikan pondok, belajar pengetahuan Islam yang tinggi ke Makkah lalu pulang. Setelah pulang mereka mendidik anak-anak dalam lingkungan Islam, isolasi dan memisahkan diri. Maka di negeri ini muncul dua golongan terpelajar Islam, yang satu golongan berkiblat ke Amsterdam dan yang lain berkiblat ke Makkah. Didikan Barat memandang sinis kepada agama, dan pendidikan surau membenci segala yang berbau barat. Keduanya memandang yang lain dari segi negatifnya saja. (Hamka, 2002: 308)

Pertentangan dua front yang berbeda cara berpikir itu begitu kuat sampai zaman kemerdekaan. Pertentangan itu terus berlangsung entah sampai kapan akan berakhir. Gagalnya umat Islam dalam sidang Majelis Konstituante hasil Pemilihan Umum 1955, adalah bukti nyata betapa pada dua kubu itu terdapat jurang yang sangat dalam yang sangat sulit didamaikan. Bahkan pertentangan dua kubu itu masih kita rasakan pengaruhnya sampai saat ini dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Oleh karena itu, pembaharuan pendidikan Islam sangat diperlukan. Cara pandang yang serba negatif dan mencoba lari dari Islam harus dihentikan. Anak-anak Islam harus dididik untuk kembali kepada al-Quran dan al-Sunnah. Bangga dengan sumber ajaran agamanya, memahami sejarah bangsanya, dan tidak tercerabut dari akar keislamannya. Begitu juga cara pandang yang sempit, mengisolasi diri, tidak mau membuka wawasan, sejatinya telah melenceng dari ajaran hakiki Islam yang menyuruh untuk belajar dan menguasai ilmu pengetahuan sehingga dapat menjadi khalifah di muka bumi.

Kita tampaknya harus belajar banyak dari Muhammadiyah yang punya komitmen kuat dalam gerakan dakwah yang ramah dan gerakan tajdid yang inovatif. Semoga di kurun abadnya yang kedua, langkah dakwah dan tajdidnya lebih bervisi jauh ke depan untuk kejayaan umat dan bangsa di masa yang akan datang.

Penulis,


Dr. H. Shobahussurur, M.A.
Ketua Takmir Masjid Agung Al-Azhar Jakarta

* Oleh-oleh penulis menghadiri undangan Muktamar Satu Abad Muhammadiyah di Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar